Keuskupan Agung Semarang Perpanjang ‘Puasa’ Kegiatan Gereja Hingga Akhir April

Uskup Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko (Foto: ist).

Katoliknews.com – Uskup Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko, Pr memutuskan memperpanjang masa darurat peribadatan dengan meniadakan semua kegiatan kegerejaan yang melibatkan banyak orang sampai tanggal 30 April 2020 atau sampai ada kebijakan baru.

Hal itu ia sampaikan dalam surat pada Senin, 23 April 2020.

Kegiatan yang dimaksud, kata dia, antara lain termasuk Perayaan Pekan Suci, Misa Mingguan, Misa Harian, dan Misa Ujud, baik di gereja, kapel, maupun lingkungan.

“Sebagai pengganti akan dilaksanakan Misa online melalui live streaming (Youtube) dan radio,” tulisnya.

Hal lain adalah Penerimaan Sakramen Baptis bagi katekumen yang sudah dipersiapkan.


“Pelaksanaannya ditunda sampai situasi dan kondisi memungkinkan,” tulisnya.

Pengakuan dosa, baik secara masal maupun secara pribadi, juga semua kegiatan bersama, baik renungan APP, Jalan Salib, kursus-kursus dan pembinaan iman, rapat, latihan-latihan, dan pertemuan-pertemuan lain, juga ditiadakan,

“Selama masa darurat peribadatan, terutama dalam Pekan Suci, para Imam tetap wajib merayakan Ekaristi dan ibadat di komunitas masing-masing tanpa melibatkan umat dari luar komunitas,” katanya.

Panduan teknis merayakan Pekan Suci bagi para Imam akan dikeluarkan oleh Komisi Liturgi KAS dengan mengacu pada Dekret Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen, No. 153/20, tanggal 19 Maret 2020.

Sementara Rekoleksi Imam untuk persiapan pembaruan Janji Imamat, jelasnya, dilakukan secara serentak di pastoran dan komunitas masing-masing atau secara pribadi, mulai Senin 6 April 2020 pukul 17.00 sampai dengan Selasa 7 April 2020 pukul 12.00, yang diakhiri dengan Doa Pembaruan

“Janji Imamat (dilakukan) di hadapan Tuhan. Panduan dan bahan rekoleksi akan dikirimkan oleh Panitia,” tulisnya.

Pelaksanaan Misa Krisma pemberkatan minyak juga ditunda dan akan ditentukan kemudian, sementara pelayanan pengurapan orang sakit serta pemberkatan jenazah tetap diberikan dengan memperhatikan unsur keamanan kesehatan, kecuali ditentukan lain oleh Dinas Kesehatan.