Pastor Giuseppe Berardelli. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Nama Pastor Giuseppe Berardelli (72) yang meninggal pekan lalu karena virus corona (COVID-19) menjadi bahan perbincangan hangat, karena ia disebut menyerahkan respirator atau alat bantu pernafasan – yang seharusnya ia pakai – kepada pasien yang lebih muda.

Meski imam tersebut memang dikenang sebagai sosok yang baik hati dan rela berkorban, sejumlah media, seperti Crux dan Catholic News Agency (CNA) meragukan bahwa berita soal penyerahan respirator itu benar adanya.

“Tidak ada respirator yang disumbangkan (kepada pasien yang lebih muda). Belum ada respirator yang datang dari luar rumah sakit,” kata Pastor Giulio Dellavite kepada CNA pada 24 Maret.

Para dokter di wilayah Lombardy, Italia berjuang untuk merawat lebih dari 10.000 pasien virus corona yang saat ini dirawat di wilayah tersebut dengan sejumlah unit perawatan intensif yang terbatas.

Pastor Dellevite, yang adalah sahabat Pastor Berardelli selama lebih dari 20 tahun, mengatakan, ia percaya bahwa Pastor Berardelli akan menyerahkan tempat potensial di unit perawatan intensif untuk pasien yang lebih muda, jika situasi memungkinkan.

“Tapi kita tidak memiliki informasi yang pasti,” kata imam itu. “Ini tidak seperti cara beberapa jurnalis menulis: bahwa itu adalah respirator yang dibeli untuknya dan kemudian diberikan olehnya kepada orang lain,” kata Dellevite.

Laporan 22 Maret dari situs Italia Araberara, yang mengklaim Pastor Beradelli menyerahkan respirator yang disumbangkan oleh parokinya untuk pasien yang lebih muda, menjadi viral pada 23 Maret.

Situs web tersebut mengutip seorang karyawan anonim di San Giuseppe Rest Home di Casnigo sebagai sumber informasinya.

Tetapi Benedetta Francina, seorang karyawan di San Giuseppe Rest Home, mengatakan kepada CNA bahwa tidak mungkin sesama karyawan di rumah peristirahatan itu bisa mengetahui bagaimana segalanya berakhir bagi Pater Berardelli, karena dia meninggal di Rumah Sakit Lovere, bukan di rumah itu.

Francina mengatakan kepada CNA bahwa ia adalah umat paroki di paroki yang dilayani Pastor Berardelli, yakni St. Yohanes Pembaptis.

Ia juga mengenal pastor itu sebagai seorang yang memiliki iman yang teguh.

Namun, dia mengatakan bahwa anggota parokinya menghadapi krisis dengan wabah corona dan telah diisolasi selama berminggu-minggu. Dia belum pernah mendengar tentang penggalangan dana untuk respirator.

“Dia adalah orang yang penuh iman, yang menularkan kegembiraan, hal-hal positif, selalu bahagia, selalu siap memberikan penghiburan,” katanya.

“Dia selalu memberikan dirinya sendiri kepada umatnya,” kata Francina.

“Dia selalu siap jika seseorang butuh berbicara dengannya atau membutuhkan bantuan. Ketika saya mengenang, Pastor Giuseppe, saya mengingatnya sebagai orang yang luar biasa.”

Keuskupan Bergamo membenarkan bahwa Pastor Giuseppe Berardelli meninggal pekan lalu setelah diserang COVID-19.

Berardelli adalah satu dari 23 imam yang dilaporkan meninggal akibat COVID-19 di Keuskupan Bergamo, salah satu daerah dengan tingkat infeksi virus corona tertinggi di Italia.

Sebanyak 6.820 orang di Italia telah meninggal karena virus corona, demikian menurut Kementerian Kesehatan Italia pada 24 Maret.

Di antara yang tewas, ada setidaknya 60 imam, menurut laporan media setempat.

Dalam Misa yang disiarkan televisi pada 24 Maret, Paus Fransiskus memuji kepahlawanan para dokter dan imam yang telah meninggal setelah merawat atau mengunjungi orang sakit.

“Saya telah mendengar bahwa beberapa dokter, imam telah meninggal dalam beberapa hari terakhir, saya tidak tahu apakah ada perawat [yang telah meninggal],” kata paus.

“Kami berdoa untuk mereka, untuk keluarga mereka, dan saya berterima kasih kepada Tuhan atas contoh kepahlawanan yang mereka berikan kepada kami dalam merawat orang sakit,” kata Paus Fransiskus.