Paus Fransiskus

Katoliknews.com – Di tengah pandemi virus corona (COVID-19) yang kini melanda dunia, Paus Fransiskus mengajak semua umat Katolik dan Kristen lainnya untuk bersama-sama mendoakan Doa Bapa Kami pada hari ini, Rabu, 25 Maret 2020.

“Saya mengajak semua pemimpin Gereja dan komunitas Kristen, bersama dengan semua orang Kristen dari berbagai denominasi, untuk mendoakan bersamaan doa yang diajarkan Yesus, Tuhan kita,” ajak Bapa Suci, merujuk pada Doa Bapa Kami.

Ajakan itu ia sampaikan setelah Doa Angelus, yang ia pimpin dari Perpustakaan Istana Apostolik Vatikan pada 22 Maret.

Ia mengatakan, umat Kristiani harus“menengadah ke langit” pada masa-masa sulit ini dan meminta untuk berdoa sendiri beberapa kali sehari, juga berdoa bersama dengannya pada hari ini, tepat siang hari waktu Vatikan atau pukul 18.00 WIB.

Dengan demikian, kata dia, “Tuhan mendengarkan doa bersama dari semua pengikut-Nya, yang sedang mempersiapkan diri untuk merayakan kemenangan Kristus yang Bangkit” pada Paskah/

Ia mengatakan, kini saatnya kita semua bersatu dalam doa dan belas kasih, termasuk mendoakan semua orang yang bekerja untuk melindungi masyarakat.

Paus asal Argentina itu juga mengimbau umat Kristen untuk menunjukkan kedekatan, baik dengan mereka yang menderita akibat virus corona, maupun petugas kesehatan dan pelayan publik yang berjuang melawan pandemi COVID-19 ini..

“Mari kita tetap bersatu. Mari kita rasakan kedekatan kita dengan orang-orang yang paling kesepian dan kelelahan,” katanya.

Kita semua, kata dia, bersatu dengan dokter, petugas kesehatan, perawat, relawan, juga dengan pihak berwenang yang harus memberlakukan tindakan demi kebaikan kita.

“Kedekatan kita dengan polisi, dengan tentara yang selalu berusaha menjaga ketertiban di jalanan, untuk memastikan bahwa hal-hal yang diminta pemerintah untuk dilakukan demi kebaikan semua terlaksana,” kata Paus Fransiskus.

Hingga hari ini, tercatat 422.829 kasus COVID-19 di seluruh dunia. Korban meninggal mencapai 18.907, sementara yang sembuh 109.102.

Italia kini menjadi yang terparah, dengan korban meninggal mencapai 6.820, melewati China – tempat pertama kali virus itu ditemukan, di mana yang meninggal mencapai 3.281.