Frater Monfoort, BHK yang nama babtis dan akademiknya, Dr. Klemens Mere, S.E., M.Pd., M.M., M.H., M.A.P menjadi rektor baru Universitas Katolik Widya Karya Malang, Jawa Timur. Ia resmi mengemban jabatan tersebut sejak Sabtu, 28 Maret 2020. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Universitas Katolik Widya Karya (UKWK) Malang, Jawa Timur kini resmi memiliki rektor baru setelah acara serah terima jabatan berlangsung pada Sabtu, 28 Maret 2020 dari rektor lama ke rektor baru.

Frater Monfoort, BHK yang nama babtis dan akademiknya, Dr. Klemens Mere, S.E., M.Pd., M.M., M.H., M.A.P menjadi rektor baru kampus tersebut selama periode 2020-2024. Ia menerima estafet kepemimpinan dari rektor sebelumnya, Romo Albertus Herwanta, O.Carm (2015-2020).

Acara serah terima ini dilakukan di hadapan undangan terbatas dan tertutup, karena berlangsung  di tengah pandemi virus corona (Covid-19) saat ini, sementara seremonialnya akan dilakukan setelah pemerintah mencabut larangan untuk berkumpul.

“Pelantikan dipercepat karena masa tugas rektor lama sudah berakhir tanggal 28 Februari yang lalu. Sekarang ada kekosongan pimpinan, sehingga dibuat secara internal agar saya sudah bisa mulai bekerja,” kata Frater Monfoort.

Dalam acara hari ini, hadir Uskup Keuskupan Malang, Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm, perwakilan dari Yayasan Yayasan Perguruan Tinggi Katolik Adisucipto Malang – yang membawahi UKWK -, Provinsial Ordo Karmel, Provinsial CDD, Provinsial Kongregasi SPM Provinsi Probolinggo dan Frater PU Kongregasi Frater BHK.

Serah terima dari rektor lama, Romo Albertus Herwanta, O.Carm (2015-2020) kepada Frater Monfoort, BHK, rektor baru periode 2020-2024. (Foto: Ist)

Dalam sambutannya, Frater Monfoort mengatakan,  secara pribadi serta sebagai anggota Kongregasi, “berterima kasih atas kepercayaan ini.”

Sejak tiga pekan lalu mendapat penunjukkan sebagai rektor, katanya, “saya terus merefleksikan panggilan saya selama menjadi seorang Frater BHK.”

Mengenang kembali kehadiran para Frater BHK di Malang pada 2 Februari 1928 atas undangan khusus  Ordo Carmel dan dengan penuh semangat  membawa motivasi tinggi sesuai dengan moto pendiri Kongregasi “Dalam Keprihatinan dan Kesederhanaan,” “dalam acara pelantikan hari ini saya benar-benar merasakan suasana keprihatinan dan kesederhanaan berkenaan dengan situasi saat ini,” yang sedang menghadapi wabah Covid-19.

“Namun dalam keprihatinan dan kesederhanaan ini, saya merasakan kekuatan luar biasa yang datang dari Tuhan, dari Bapa Uskup, Dewan Pembina Bapak Hendrik, Pengurus Yayasan, serta Consorsium semuanya. Untuk selanjutnya, mohon jangan biarkan saya berjalan sendirian,” katanya.

Sejumlah Agenda

Frater Monfoort merumuskan sejumlah agenda strategis selama masa kepemimpinannya.

Pertama, menjadikan UKWK sebagai universitas yang unggul, berani melakukan perubahan-perubahan yang efektif, mampu mandiri, sekaligus memiliki jejaring yang luas dan kuat, serta melakukan evaluasi secara rutin.

Kedua, kata dia, adalah menjadi lembaga pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang mumpuni di bidangnya, memiliki integritas, serta memiliki inisiatif dan berani melakukan terobosan atau yang ia sebut berjiwa kepeloporan, dengan antara lain mampu menjabarkan visi, misi, tujuan, strategi dan sasaran program pengembangan kampus ke depan.

Ketiga, meningkatkan jumlah mahasiswa dan lulusan, dengan membuat pemetaan segmen pasar dan menguatkan brand image UKWK dalam menghadapi dinamika dan iklim kompetitif sesama perguruan tinggi.

Keempat, melakukan pengembangan SDM dan meninjau kembali kurikulum, proses pembelajaran dan suasana skademik, dengan merespons kebijakan Mendikbud yang menerapkan kebijakan “Kampus Merdeka.”

“Dipandang perlu nantinya melakukan peninjauan kembali kurikulum yang lebih kontekstual dan kekinian,” katanya.

Kelima, mengelola pembiayaan, sarana, prasarana dan sistem informasi dengan mengacu pada prinsip-prinsip good university governance, sehingga pengelolaan anggaran, termasuk peruntukkannya akan dilakukan secara transparan, akuntabel dan realistis.

Keenam, meningkatkan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Kehadiran Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) menjadi indikator sejauhmana perguruan tinggi bisa melakukan penelitian melalui roadmap program studi, pusat studi yang ada di lingkungan UKWK,” katanya. 

“LPPM perlu melakukan kegitan internal dan kegiatan eksternal dengan mengembangkan kerja sama bersama lembaga atau instansi di dalam maupun di luar negeri,” katanya.

Ia juga mengatakan, LPPM perlu mendorong publikasi ilmiah para dosen melalui jurnal bereputasi dan jurnal internasional yang terindeks Scopus yang akhir-akhir ini menjadi tuntutan sekaligus momok bagi para tenaga dosen, termasuk para guru besar.

Program Tahun Pertama

Dari sejumlah agenda itu, ada tiga yang menurut Frater Monfoort akan menjadi prioritas di tahun pertama kepempimpinannya.

Pertama, kata dia, adalah menata secara serius persiapan Akreditasi Institusi sesuai BAN PT saat ini.

“Unika Widya Karya Malang kini telah memiliki beberapa kekuatan yang merupakan fundasi yang kuat untuk melompat ke depan. Kekuatan tersebut diantaranya adalah keunggulan riset, berbagai program studinya telah mendapat akreditasi nasional serta telah menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di negeri tercinta,” katanya.

Kedua, meningkatkan jumlah mahasiswa dan lulusan.

“Sesungguhnya yang menjadi penting dalam pengelolaan perguruan tinggi khususnya perguruan tinggi swasta adalah meningkatkan jumlah mahasiswa,” katanya, sambil menambahkan bahwa akan diterapkan beberapa pola untuk rekrutmen mahasiswa baru dengan membuat pemetaan segmen pasar dan menguatkan brand image kampus.

Salah satu yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan jalur undangan yaitu calon mahasiswa baru yang lulus dari SMA, SMK yang lulus pada tahun yang sama dengan tahun pembelajaran, juga dengan memperhatikan kualifikasi nilai rapor melalui jalur prestasi akademik serta melalui jalur tes yang selama ini sudah lazim dilakukan,” katanya.

Selain itu, jelas dia, adalah dengan memperhatikan pemerataan asal mahasiswa, maka akan dilakukan survei untuk memastikan strategi promosi dan rekrutmen calon mahasiswa baru.

“Promosi juga akan memanfaatkan semua media seperti brosur, booklet, kalender, merchandise, atau sejumlah terobosan lainnya yang dibisa dilakukan melalui fasilitas gadget,” kata Frater Monfoort.

Dengan 1.800-an mahasiswa saat ini, yang mayoritas dari Jawa dan Sumatera, ia mengatakan, ke depan, lebih fokus untuk Indonesia Tengah dan Timur.

“Arah promosi ke sana,” katanya.

Sementara terkait lulusan, kata dia, akan diperkuat dengan kemampuan hard skill dan soft skill.

“Selain itu melakukan survei daya serap lulusan di dunia kerja, dengan mengikuti tuntutan dunia kerja yang berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan mengembangkan Pusat Karier di WKWK dengan membidangi kegiatan Pelatihan dan Pengembangan Jejaring Kerja, Bursa Kerja dan Tracer Study,” katanya.

Ketiga, dalam rangka merealisasikan cita-cita dan harapan tersebut, maka pihaknya akan menjalin kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, seperti dunia usaha, dunia industri, pemerintah, pemerintah daerah, yayasan atau lembaga terkait.

“Unika bertekad mulai hari ini secara aktif menjalin komunikasi dan kerja sama tersebut,” katanya.

Ia berharap dapat melakukan terobosan-terobosan dalam menjalankan tugas pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat dan dapat merealisasikan harapan-harapan yang tinggi yang digantungkan kepadanya, sehingga UKWK dapat menjadi universitas yang membanggakan, unggul dan dirasakan dampaknya oleh masyarakat dan bangsa.

Jejak di Dunia Akademik

Sejak UKWK berdiri tahun 10 Agustus 1964, Frater Monfoort tercatat sebagai Frater BHK pertama yang menjadi rektor kampus ini.

Dalam sejarah Kongregasi BHK di Indonesia, ia juga tercatat sebagai anggota pertama yang jadi rektor.

Kongregasi BHK, yang para anggotanya dipanggil “Frater” dan tidak menerima tahbisan imamat, didirikan di Utrecht, Belanda pada 13 Agustus 1873 oleh Mgr. Andreas Ignatius Schaepman, Uskup Agung Utrecht. Kongregasi yang di Belanda dikenal dengan sebutan Fraters van Utrecht ini masuk di Indonesia terhitung mulai 2 Februari 1928. Pertama kali mereka hadir di Malang.

Frater Monfort, yang nama babtisnya Klemens Mere dan lahir di Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 9 Agustus 1967, masuk Kongregasi BHK, hingga kaul kekal pada  tahun 1998.

Frater Monfoort menempuh sejumlah jenjang akademik baik untuk gelar sarjana, pasca sarjana, hingga doktor serta sejumlah kursus.

Pada tahun 1997, ia lulus dari Sarjana Ekonomi Universitas Wisnuwardhana Malang.

Tahun 2003, ia menyelesaikan kuliah Magister Pendidikan Universitas Kanjuruhan Malang.

Empat tahun berikutnya, 2017, ia meraih gelar Doktor Antropologi Sosial Universitas Merdeka Malang.

Frater Monfoor terus memelihara ‘dahaga’ dengan ilmu pengetahuan.

Pada 2014, ia meraih gelar Magister Manajemen Universitas Wisnuwardhana Malang. Dari kampus yang sama, ia juga menyelesaikan studi Magister Hukum pada 2016.

Tahun 2018, Frater Monfoort juga menyelesaikan studi Magister Administrasi Publik Universitas Merdeka Malang dan kini sedang dalam proses Magister Akuntansi Universitas Gajayana Malang.

Selain pendidikan formal, Frater Monfoort mengikuti berbagai kurus di luar negeri.

Ia antara lain mengikuti kursus perpajakan selama dua bulan di Utrecht, Belanda pada 1998,  kursus akuntansi selama dua bulan di Singapura pada tahun 2000,  studi Perpustakaan Budaya Asia selama dua bulan di Leiden, Belanda tahun 2002, kursus Kurikulum KBK sebulan di Singapura tahun 2003, memperdalam kurikulum internasional selama sebulan di Hongkong  tahun 2005 dan memperdalam Kurikulum 2013 selama sebulan di Finlandia pada tahun 2017.

Pengabdian di Bidang Pendidikan

Dengan berbagai capaian akademik, Frater Monfoor malang melintang dalam karya di bidang pendidikan.

Sejumlah posisi yang ia emban antara lain Sekretaris Majelis Pendidikan Keuskupan (MPK) Keuskupan Malang (1995 – 1998), Sekretaris Yayasan Mardi Wiyata (1995 – 2000), Kepala Kantor Yayasan Mardi Wiyata (1995 – 2000) dan Ketua Yayasan Mardi Wiyata Malang (2000 – 2019).

Sementara sejumlah jabatan yang kini masih ia pegang antara lain Tim Akreditasi SMA Propinsi Jawa Timur (sejak 2003), Dosen Tetap Universitas Wisnuwardhana Malang (sejak 2012),  Ketua MPK Keuskupan Malang (sejak 2015), Ketua Komdik Keuskupan Malang (sejak 2017).

Dalam foto ini, Fr. Monfoort sedang mendamping para Suster TMM di Ambon pada Januari 2020 perihal tata kelola keuangan. (Foto: Ist)

Frater Monfoort juga menjadi anggota Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik sejak 2017. Ia kembali terpilih menjadi anggota presidium untuk periode kedua dalam rapat umum anggota MNPK di Bali Februari lalu.

Dengan berbagai tugas demikian, Fr. Monfoort sering menjadi pembicara dalam berbagai seminar dan fasilitator untuk berbagai bentuk pelatihan, terutama terkait kepemimpinan dan tata kelola organisasi, termasuk keuangan.