Romo Fabio Stevenazzi kembali mengenakan jas putihnya sekali lagi untuk melawan pandemi virus corona (COVID-19). (Foto: Chiesadimilano.it)

Katoliknews.comRomo Fabio Stevenazzi, seorang imam diosesan di Italia berprofesi sebagai dokter sebelum memutuskan masuk seminari.  Sekarang dia kembali mengenakan jas putihnya sekali lagi untuk melawan pandemi virus corona (COVID-19).

Italia menghadapi krisis nasional yang disebabkan oleh kurangnya tempat tidur rumah sakit dan tenaga kesehatan. Sekarang gereja-gereja di Italia telah dikosongkan menyusul keputusan darurat pemerintah Italia sebagai reaksi terhadap pandemi COVID-19.

Hingga Minggu, 29 Maret 2020, negara itu mencatat 92.472 – kedua terbanyak setelah Amerika Serikat. Dari jumlah yang meninggal, Italia menjadi negara dengan jumlah korban paling banyak, yakni 10.023 orang.

Romo Fabio, 48, memutuskan untuk kembali menjalani praktik medis demi membantu mereka yang terinfeksi COVID-19, menurut sebuah laporan oleh situs resmi Keuskupan Milan.

Sebagai anggota klerus, pilihannya merupakan ekspresi kreativitas pastoral yang diperlukan pada masa-masa ini. Ini juga merupakan perwujudan dari gereja sebagai “rumah sakit lapangan,” sebuah metafora yang sering dipakai Paus Fransiskus.

Imam Italia, yang melayani Komunitas San Cristoforo di Gallarate, saat ini akan bekerja di rumah sakit di Busto Arsizio, sebuah kota berpenduduk 83.290 di Italia utara.

Busto Arsizio adalah kota terpadat keenam di Lombardy, wilayah Italia yang menderita wabah terburuk di seluruh Eropa.

Ketika Romo Fabio mendengar ajakan Paus Fransiskus untuk menjadi kreatif dan lebih dekat dari sebelumnya kepada umat Allah di masa-masa sulit ini, ia menyatakan kepada atasannya keinginan untuk membantu sebagai dokter. Rekan-rekannya di rumah sakit menerimanya dengan tangan terbuka. Dia pun direkrut segera.

Selama 10 tahun, Romo Fabio bekerja sebagai internis di ruang gawat darurat di Legnano, kota lain di Lombardy, dekat Milan.

Bahkan setelah tahbisannya pada tahun 2014, ia rajin menghadiri pelatihan medis reguler yang diperlukan untuk menjaga agar sertifikasinya tetap mutakhir.

Sebagai anggota klerus, pilihan Romo Fabio merupakan ekspresi kreativitas pastoral yang diperlukan pada masa-masa ini. Ini juga merupakan perwujudan dari gereja sebagai “rumah sakit lapangan,” sebuah metafora yang sering dipakai Paus Fransiskus.
(Foto: Chiesadimilano.it)

Sejak 2017 dia telah bekerja dengan sebuah organisasi bernama “Cuamm – Dokter untuk Afrika,” di mana dia bekerja di Ethiopia pada musim panas 2018 dan di Tanzania pada 2019.

Agar siap menghadapi pasien yang menderita COVID-19, ia berpartisipasi dalam pelatihan khusus, mempelajari prosedur dan bagaimana melindungi dirinya dan rekan-rekannya.

Keputusan Romo Fabio untuk kembali ke rumah sakit akan menuntut pengorbanan pribadi. Selama pasien membutuhkannya, ia pada dasarnya akan hidup sebagai seorang pertapa di ruangan kecilnya di pastoran, tanpa bisa melakukan kontak dengan pastor rekannya. Dia akan merayakan Misa sendirian, seperti banyak imam lakukan hari ini. Tetapi melalui kesulitan ini, Ekaristi akan menjadi roti hariannya, menguatkan dia untuk menghadapi krisis saat ini dan membawa senyum kepada para pasiennya.

Untuk membantunynya, Paroki St. Joseph di Busto Arsizio juga telah memulai sebuah inisiatif untuk membantu para dokter dan perawat rumah sakit tempat Romo Fabio bekerja.

Romo Giuseppe Tedesco telah menginisiasi layanan untuk membawa sandwich, buah dan makanan sehat untuk petugas kesehatan di bagian layanan ntuk penyakit menular, yang biasanya tidak punya waktu untuk beristirahat atau pergi makan karena urgensi pekerjaan mereka selama keadaan darurat ini.

Aleteia.org