Katoliknews.comUmat Katolik merayakan hari Minggu Palma hari ini, 5 April 2020.

Biasanya pada hari ini, umat datang ke Gereja sambil membawa daun palma, yang akan diberkati.

Situasi khusus tahun ini, di mana warga dunia menghadapi pandemi virus corona (Covid-19) membuat Minggu Palma tidak dirayakan seperti biasanya. Imam atau uskup memilih memimpin Misa di Gereja yang kosong, sementara umat diminta mengikutinya lewat siaran langsung melalu televisi atau internet.

Mereka juga diminta tetap menyediakan daun palma di rumah, yang kemudian diberkati langsung oleh imam saat berkunjung ke lingkungan atau wilayah mereka. Sebagian juga memilih meminta umat berbaris di jalan dan imam berkeliling memberi berkat, sebelum kemudian merayakan Misa di Gereja.

Apa makna perayaan ini?

Minggu Palma dirayakan untuk mengenang momen ketika Yesus memasuki kota Yerusalem, sebelum Ia akan menjalani peristiwa sengsara, hingga mati di kayu Salib dan bangkit kembali, yang dirayakan pada Minggu Paskah.

Perayaan ini merujuk kepada peristiwa yang dicatat dalam keempat Injil, yaitu Markus 11:1-11, Matius 21:1-11, Lukas 19:28-44 dan Yohanes 12:12-19.

Saat itu, umat mengeluk-elukan Yesus dengan daun palma di tangan.

Mengalasi jalan dengan daun palma adalah kebiasaan yang dilakukan bagi orang yang berkedudukan tinggi di zaman Yesus.

Di beberapa gereja, jemaat membentuk daun palem menjadi bentuk salib. Daun yang digunakan pun, tak hanya palem. Beberapa negara yang tak memiliki palem menggunakan tanaman lokal seperti bunga dan ranting pohon.

Yesus tiba di Yerusalem dengan mengendarai keledai, yang dianggap sangat simbolis dengan perdamaian,  berbeda dengan kuda yang identik dengan perang.

Daun palem yang sudah diberkati saat Minggu Palma akan dibawa pulang untuk dipasang di rumah masing-masing sebagai tanda telah siap untuk memasuki Paskah.

Daun yang sudah kering kemudian dibakar dan digunakan untuk perayaan Rabu Abu pada tahun berikutnya.