Wihelmus Gonsalit Saur, OFM (Foto: Ist)

Oleh: WIHELMUS GONSALIT SAUR, OFM

Di tengah penderitaan dan kematian akibat pandemi Covic-19, umat Kristen baru saja merayakan Tri Hari Suci: Kamis Putih (Perjamuan Malam Terakhir), Jumat Agung (Sengsara dan Kematian Tuhan) dan Paskah (Kebangkitan Tuhan). Perayaan-perayaan ini mengungkapkan cinta kasih Tuhan kepada manusia yang tanpa batas. Penderitan dan kematian Yesus Kristus di kayu Salib merupakan ungkapan kenosis, pengosongan diri dalam kasih demi kemanusiaan. Kebangkitan-Nya memberi hidup baru dan masa depan baru bagi kemanusiaan.

Memaknai Tuhan yang bangkit ibarat The Wounded Healer, “Yang terluka yang menyembuhkan”. Kisah –kisah Kebangkitan Tuhan hanya dapat dimengerti dalam satu kesatuan dengan kisah penderitaan dan kematian-Nya di kayu Salib.

Memoria passionis, mortis et resurrectionis Jesu Christi merupakan sumber kekayaan rohani yang tak pernah habis digali dan direnungkan oleh umat Kristen demi kemuliaan Tuhan dan kemanusiaan. Ingatan akan sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus telah menginspirasi kehidupan begitu banyak orang untuk rela berkorban dan berjuang bagi mereka yang terluka, tertindas dan terabaikan.

Penderitaan dan kematian Yesus Kristus melukiskan keengganan manusia untuk merangkul kebenaran dan keadilan yang sejati, yang tidak lain adalah Tuhan sendiri. Kebenaran dan keadilan telah dibiarkan mati tertindas oleh tekanan kepentingan yang menyingkirkan dan merendahkan martabat kemanusiaan.

Membaca Kisah Sengsara Yesus Kristus rasanya seperti kita membaca kisah sengsara kita sendiri dan kisah sengsara sesama manusia yang lain di saat ini. Kisah itu menggugat rasa kemanusian dan kepedulian kita untuk sesama yang lain yang menderita dan terlupakan.

Memoria Passionis, Mortis

Johann Babtist Metz (1928-2019), seorang teolog Katolik Jerman mengambil gagasan memoria passionis dalam mengembangkan teologinya yang berdimensi sosial. Memoria passionis bisa menjadi sebuah ingatan yang berbahaya (dangerous memory) karena ingatan itu menuntut kita untuk mengingat mereka yang menderita dan bertindak demi nilai kemanusiaan mereka.

Ingatan akan penderitaan dan kematian Yesus Kristus memiliki pesan sosial yang mendalam.

Kita merayakannya setiap tahun bukan sekedar sebagai ritual belaka tetapi sebuah perayaan solidaritas yang menggugat segala ketidakbenaran dan ketidakadilan dalam hidup manusia zaman ini.

Pengampunan

Ingatan akan penderitaan dan kematian Yesus Kristus mesti ditempatkan dalam rangkaian doa Yesus di kayu Salib: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Doa ini menjadi penting ketika kita menjadikan momoria passionis, mortis sebagai basis gugatan terhadap berbagai kejahatan, penindasan, pelanggaran dan ketidakpedulian global terhadap kemanusiaan.

Kejahatan kemanusiaan telah melahirkan luka, duka, penderitaan, bahkan kematian bagi sesama yang lain. Pengalaman ketidakadilan dan kekerasan bisa melahirkan kemarahan, kebencian, dendam dan hasrat untuk membalas dendam.

Ingatan akan penderitaan bisa juga “berbahaya” jika ingatan itu melahirkan kekerasan baru terhadap sesama yang lain. Tak dapat disangkal ingatan akan penderitaan masa lalu dan sekarang bisa memelihara kekerasan dan melahirkan kekerasan baru yang tiada akhir dan terus berlanjut.

Karena itu ingatan akan penderitaan dan kematian siapapun mesti ditempatkan dalam dimensi pengampunan sebagaimana doa Yesus di kayu Salib. Uskup Desmond Tutu dari Afrika Selatan dalam konteks apartheid menegaskan keyakinannya: “Tiada masa depan tanpa pengampunan”

Dalam konteks inilah kita memahami pesan Yesus Kristus untuk mencintai musuh: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44). Maka tak heran Dia yang tersiksa dan menderita itu akhirnya Rest in Peace, beristirahat dalam damai.

Memoria Resurrectionis

Salah satu kisah kebangkitan Yesus Kristus yang menarik adalah ketika Tuhan yang bangkit menjumpai para murid-Nya di ruang tertutup di Yerusalem. Kepada mereka yang takut, sedih, kecewa, kehilangan harapan, dan dipenuhi rasa bersalah, Tuhan yang bangkit itu meneguhkan mereka dengan mengatakan: “Damai Sejahtera bagi kamu!” (Yoh 20:19). Ungkapan Yesus ini berasal dari Bahasa Ibrani, Shalom, yang berarti sebuah harapan agar para murid mengalami hidup sejahtera, sehat, utuh,dan penuh.

Warta damai sejahtera lahir dari Dia yang pernah terluka. Kepada para murid, Tuhan yang bangkit menunjukkan bekas tangan dan lambung-Nya yang terluka (Yoh 20:20).

Memoria resurrectionis meyakinkan kita bahwa ada hidup baru dan masa depan yang baru. Ingatan akan kebangkitan mengundang kita untuk membangun kekuatan hidup dari perspektif  pengampunan dan damai sejahtera.

Karena itu refleksi atas memoria passionis, mortis mesti disertai oleh perspektif memoria resurrectionis sehingga tidak melahirkan kekerasan baru dan ketiadaan masa depan. Kisah-kisah kebangkitan Yesus Kristus membantu kita untuk mentransendensikan memoria passionis, mortis menjadi memoria resurrectionis yang menghidupkan dan menyelamatkan.

Tuhan yang bangkit sungguh The Wounded Healer, yang terluka yang menyembuhkan. Dalam terang refleksi yang sama Robert J. Schreiter (1998) dalam buku The Ministry of Reconciliation: Spirituality & Strategies melihat Tuhan yang bangkit sebagai korban dan pendamai (The Risen Lord as Victim and Reconciler). Ia sungguh menderita tetapi bisa mengampuni dan berdamai. Ia memberikan damai sejahtera kepada para murid-Nya yang takut dan kurang beriman. Ia membangun kembali kepercayaan diri para murid dan mengutus mereka untuk mewartakan Kabar Sukacita pengampunan, rekonsiliasi dan damai sejahtera. 

Tuhan yang bangkit mengajak kita semua untuk menjadi The Wounded Healer, yang terluka yang menyembukkan di tengah dunia yang diwarnai oleh memoria passionis, mortis dengan kepedulian, belas kasih (compassion) dan rasa solidaritas.

Penulis adalah seorang Fransiskan yang berkarya di  Papua dan Papua New Guinea.