Seorang tunawisme menerima makanan dari warga di Chapeu Mangueira, Rio de Janeiro, Brazil. (Foto: Vaticannews.va)

Katoliknews.com – Para pemimpin politik dan organisasi sipil Katolik di Amerika Latin menerbitkan sebuah manifesto di mana mereka menegaskan perlunya melindungi kelompok masyarakat yang paling rentan, yang adalah kaum yang paling parah terkena dampak pandemi virus corona.

Seperti dikutip dari Vaticannews.va, komitmen itu dinyatakan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan saat ini. Mengambil langkah sesuai dengan persepektif Kristiani menjadi dasar dari “Manifesto Orang Amerika Latin bersama dengan Tanggung Jawab Politik” itu.

Ditandantangani 170 orang yang memiliki kekuasaan dan tanggung jawab sosial politik, sejumlah tokoh yang masuk dalam daftar antara lain tiga mantan kepala negara, seorang mantan sekretaris Organisasi Negara-negara Amerika, mantan direktur Dana Moneter Internasional (IMF), yang juga merupakan mantan anggota parlemen.

Manifesto itu menyatakan bahw deklarasi dan seruan ini berasal dari “rasa sakit yang dialami oleh mereka yang menderita dan akan paling menderita karena pandemi ini”: orang miskin, mereka yang sendirian dan ditinggalkan, yang paling rapuh dan paling rentan, mereka yang akan paling terpukul oleh dampak krisis Covid-19.

“Pikirkan dampak dramatisnya terhadap banyak saudara dan saudari di Amerika Latin yang bertahan hidup dari pekerjaan serabutan, pada mereka yang tinggal di jalanan, pada banyak orang lanjut usia yang terlantar,” demikian isi pernyataan itu.

Orang miskin, dikatakan dalam manifesto itu, adalah mereka yang terpaksa berbenturan dengan aturan isolasi dan karantina karena harus meninggalkan rumah untuk mendapatkan makanan sehari-hari.

“Kenyataan menuntut bahwa pilihan yang kita buat mencerminkan pilihan yang dibuat oleh Yesus Kristus. Oleh karena itu semua tindakan dan komitmen untuk mengatasi krisis ini harus dibuat dari sudut pandang dampaknya terhadap yang paling rentan.”

Meski begitu, dijelaskan dalam manifesto itu, solidaritas tersebut harus diorganisir secara berbeda antara setiap wilayah dan negara lantaran dampak pandemi ini tidak sama di semua tempat.

Dokumen tersebut juga menyerukan keterlibatan media yang harus bekerja untuk kebaikan bersama, menghindari sensasionalisme dan berkontribusi untuk mengkampanyekan “sadar resiko Covid-19 tetapi tetap tenang dan percaya diri”.

Media juga mesti menyoroti fakta bahwa Gereja harus dilibatkan, karena pendampingan psikologis dan spiritual merupakan hal yang mendasar, terutama bagi “mereka yang mengalami situasi traumatis atau penuh tekanan karena persoalan ini.”

Manifesto itu menyatakan bahwa karena persoalan seperti Covid-19 belum pernah terjadi sebelumnya, maka “dibutuhkan kreativitas untuk melawannya dan kemudian mengatasi krisis” yang terjadi

Lantas para pemimpin Katolik tersebut menyerukan semua pemimpin politik dari berbagai negara di Amerika Latin untuk mencari tindakan terkoordinasi dan terpadu.

“Gereja-gereja menjadi pembawa dan pelaksana dari langkah-langkah ini dan sampai pada batas yang bisa dilakukan “.

Pada akhir pernyataan sikap tersebut dikatakan bahwa momen ini juga merupakan saat untuk memperkuat mekanisme integrasi Aliansi Pasifik, Organisasi-Organisasi di Amerika Selatan (Mercosur), Sistem Integrasi Amerika Tengah dan kerja sama antara negara-negara dengan populasi terbesar di benua (Meksiko, Kolombia, Brasil, Argentina, dan Chili).

Karena itu, dikatakan, kerja sama Bank Dunia, Bank Pembangunan Antar-Amerika dan Bank Pembangunan Amerika Latin sangat penting.

“Tentu saja kita berada dalam situasi yang sangat serius di planet kita, mungkin menjadi tantangan terbesar kita, sebagai sebuah generasi, yang akan ada dalam sejarah kita.”