Paus Fransiskus memberikan renungan pada Jumat, 27 Maret 2020, merefleksikan dalam terang iman pandemi corona (Covid-19) yang kini melanda dunia. (Foto: Vaticannews.va)

Katoliknews.com – Paus Fransiskus mengatakan penganiayaan terhadap umat Kristiani di seluruh dunia pada abad terakhir semakin meningkat.

Hal tersebut disampaikannya saat melakukan audiensi mingguan di Vatikan pada Rabu 29 April 2020.

Paus mengatakan, lebih banyak orang Kristen yang tewas pada abad terakhir dibandingkan dengan gabungan dari abad-abad sebelumnya termasuk sejak masa Yesus.

Ia menjelaskan, antara tahun 2005 hingga 2015 misanya, diperkirakan hampir satu juta orang Kristiani menjadi martir.

Sementara itu, menurut laporan dua tahunan dari Aid to the Church in Need (ACN), sebuah yayasan kepausan yang membantu orang Kristen yang dianiaya, 300 juta orang Kristen mengalami penganiayaan antara 2017 dan 2019.

“Kita berharap dan berdoa semoga kesengsaraan mereka akan berakhir sesegera mungkin,” kata Paus Fransiskus seperti dikutip dari Licas.news pada Kamis 30 April 2020.

Lantas, ia meminta orang-orang Kristiani untuk mengungkapkan empati dan kedekatan dengan saudara-saudari yang dianiaya tersebut – yang menurutnya adalah bagian dari “anggota Tubuh Kristus yang menderita, yakni Gereja.”

Meski begitu, Paus asal Argentina tersebut memperingatkan agar umat Kristiani tidak berkembang menjadi pribadi yang “bermentalitas korban” karena sejumlah penganiayaan tersebut. Misalnya, kata dia, ketika ada penghinaan, itu tidak selalu identik dengan penganiayaan.

Ia juga mengajak umat Kristiani untuk belajar dari Santo Paulus – seorang pengikut Kristus yang menyadari bahwa dirinya benar, yang kemudian menjadi “seorang pria yang penuh kasih, yang dengan senang hati menghadapi penganiayaan yang dideritanya.”

Paus juga mengajak umat di seluruh dunia untuk menerima Roh Kristus – yang dapat menuntun orang beriman untuk benar-benar mencintai dunia, bahkan sampai menyerahkan hidup mereka “tanpa kompromi dengan tipuannya.”

Sementara itu, nasib umat Kristiani yang selama ini menghadapi penganiayaan memburuk di tengah pandemi corona. Hal tersebut merujuk pada pengakuan Kelompok Save the Persecuted Christians, sebuah koalisi para pemimpin agama dan masyarakat sipil.

Dalam sebuah pernyataan, Dede Laugesen yang merupakan direktur eksekutif koalisi tersebut memperingatkan bahwa pandemi virus corona telah membuat situasi mereka menjadi parah.

“Bagi mereka yang sudah menghadapi penganiayaan yang luar biasa, situasi mereka diperburuk oleh krisis saat ini karena telah menempatkan mereka dalam bahaya yang lebih besar daripada sebelumnya,” katanya.