Pastor Frans Lieshout OFM. (Foto: Arnold Belau/Suarapapua.com)

Katoliknews.com – Kabut duka menyelimuti Umat Katolik di Tanah Papua khususnya, dan masyarakat Papua umumnya pada 1 Mei 2020 ketika Pastor Frans Lieshout, OFM, seorang misionaris yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya bersama orang Papua menghembuskan nafas terakhir di Belanda, tanah kelahirannya.

Jauh dari umat yang dilayaninya selama 56 tahun berkarya sebagai seorang Saudara Dina, Tete Lieshout, demikian ia biasa disapa umat di Wamena, meninggal dunia dalam usia 85 tahun di salah satu Biara OFM di Amsterdam.

Tete Lieshout kembali ke Belanda pada akhir Oktober 2019, setelah beberapa tahun terakhir keluar masuk rumah sakit akibat kanker prostat yang dideritanya.

Ia bahkan beberapa kali mengungkapkan bahwa ia ingin menghabiskan sisa hidupnya di Lembah Baliem. Namun, kondisi kesehatannya yang membutuhkan perawatan intensif membuatnya memutuskan melewati sisa-sisa hidupnya di Belanda.

Kepergiannya menyisahkan duka yang mendalam, bukan saja karena umat dan masyarakat Papua tidak bisa memberikan penghormatan terakhir di hadapan jenazahnya, tetapi juga karena  tidak bisa berkumpul dan mendoakannya sebagaimana biasanya dalam budaya Lembah Baliem. Di tengah pandemi Covid-19, umat terpaksa hanya bisa berdoa di rumah masing-masing.

Dicintai Warga Papua

Umat dan masyarakat di tanah Papua tidak akan melupakan sosoknya. Ia akan selalu dikenang sebagai seorang misionaris yang peduli dan berpihak pada masyarakat Papua yang menderita.

Imam yang lahir di Montfoort, Belanda pada 15 Januari 1935 ditugaskan ke Papua, tidak lama setelah ditahbiskan pada 1 April 1962.

Ia tiba pada 18 April 1963, saat situasi politik di Papua mencekam usai deklarasi berdirinya Negara Papua Barat, diikuti oleh operasi Trikora 19 Desember 1961 yang dilancarkan Presiden Soekarno.

Belum sampai sebulan tiba di Papua, tepatnya pada tanggal 1 Mei 1963, terjadi apa yang disebut oleh pemerintah Indonesia sebagai hari integrasi bangsa Papua ke dalam NKRI, meskipun bagi orang Papua, tanggal itu adalah awal mula aneksasi atau pencaplokan bangsa Papua.

Pemerintah Indonesia beralasan bahwa masuknya Papua ke dalam Indonesia sudah sesuai dengan Perjanjian New York (New York Agreement) pada 15 Agustus setahun sebelumnya Perjanjian itu terjadi antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda, yang difasilitasi oleh Pemerintah Amerika, lewat diiplomatnya Eslworth Bunker. Orang Papua tidak dilibatkan sama sekali dalam perjanjian itu.

Tete Lieshot mengalami proses-proses itu, di mana muncul berbagai penolakan dan perlawanan di tanah Papua, yang direspons pemerintah Indonesia dengan berbagai operasi militer.

Dalam kondisi Papua yang bergejolak dengan berbagai operasi militer dan banyaknya rakyat Papua yang berjatuhan, Tete Lieshot harus terus berkarya.

Ia ditugaskan sebagai Sekretaris II Keuskupan Jayapura pada tahun 1963 – 1964.

Baru setahun di Jayapura, ia diberi mandat baru sebagai Pastor Paroki Musatfak di Lembah Baliem, Wamena (1964-1967). Di Wamena, Tete Lieshot menemukan kecintaannya yang luar biasa dengan tanah Lembah Baliema Ia pun mempelajari kehidupan masyarakat setempat, termasuk bagaimana orang Baliem melihat Tuhan sebelum misionaris datang mewartakan Injil.

Kecintaannya yang luar biasa dengan mereka mendorongnya untuk serius belajar budaya dan bahasa setempat. Ia akhirnya sangat fasih berbicara bahasa masyarakat Lembah Baliem. Sudah menjadi kebiasannya memimpin Misa dalam Bahasa Suku Dani, hal yang membuatnya semakin dicintai masyarakat Lembah Baliem.

Sebagai misionaris yang siap pergi ke mana saja Tuhan mengutusnya, Tete Lieshot kemudian menerima tugas perutusan baru sebagai Pastor Paroki di Bilogay, Kabupaten Intan Jaya pada tahun 1967-1973.

Pada tahun 1973, ia ditugaskan menjadi rektor di SPG Teruna Bakti Waena – sekarang SMA Katolik Teruna Bakti – sebagai tempat mendidik para calon guru yang siap untuk mengabdi di Tanah Papua. Tete Lieshot masuk di SPG Teruna Bakti saat sekolah tersebut baru dipindahkan dari Biak pada tahun 1971 dan mengakhiri masa tugasnya di sekolah itu pada 1983.

Tete Lieshot kemudian ditugaskan menjadi pastor koordinator tiga paroki di Jayapura (Katedral, APO dan Argapura) pada tahun 1983-1985 sebelum diangkat menjadi deken untuk Dekenat Jayawijaya (sekarang Dekenat Pegunungan Tengah) pada tahun 1985-1996.

Kembali ke Wamena untuk waktu yang lama membuatnya semakin fasih berbahasa daerah itu dan semakin mendalami kebudayaan masyarakat di Lembah Baliem.

Pada 1996-2002, ia kembali mendapat tugas baru sebagai deken di Dekenat Jayapura, merangkap sebagai dosen liturgi di STFT Fajar Timur di Abepura.

Dari Abepura ia menjadi Pastor Paroki di Biak dari 2002 hingga ia pensiun pada 2007, di mana kemudian ia memutuskan untuk melewatinya di Wamena.

Dalam salah satu tulisannya, ia menyatakan, memilih Wamena “karena saya mengetahui banyak mengenai budaya, bahasa dan sejarah daerah itu dan ingin menulis mengenai hal-hal itu.”

Di masa pensiun ini, ia menulis beberapa buku, antara lain “Sejarah Gereja Katolik di Lembah Balim,”  Bahasa Balim, Tata Bahasa dan Kamus” dan “Kebudayaan Balim, Suatu Refleksi Pribadi.”

Mewartakan Injil dengan Kata dan Perbuatan

Di semua tempat ia ditugaskan, Tete Lieshot secara serius mewartakan Injil dalam kata dan perbuatan. Ia tidak hanya berkotbah dari atas mimbar, tetapi ia terjun langsung dalam pergulatan masyarakat dan umat yang dilayaninya. Ia tidak hanya memberikan kesejukan dengan kata-kata, tetapi ia membawa harapan tepat di tengah-tengah umatnya yang menderita dengan ikut berjuang bersama melawan ketidakadilan dan penderitaan.

Untuk itu, ia tidak segan mengeritik pihak-pihak yang melakukan kekerasan dan ketidakadilan. Ia pun mengecam orang-orang yang hidup nyaman di tengah penderitaan masyarakat Papua. Ia bahkan tidak segan mengeritik Gereja Katolik yang menurutnya kian jauh dari masyarakat Papua dan pergulatan hidupnya.

Suatu ketika dalam sebuah diskusi di Wamena, Ia mengeritik Gereja yang diam atas persoalan umat di Papua dan orang-orang non-Papua yang hanya datang mencari nafkah di Papua dan kurang peduli dengan orang Papua sebagai pemilik tanah.

Ia, sebagaimana terungkap dalam artikelnya yang menjadi penyulut diskusi, meminta agar Gereja dan semua orang untuk menjadi sedikit lebih hitam dan keriting.

Menjadi hitam dan keriting, kata dia, bukan dalam arti harafiah tetapi dalam artian agar para pemimpin agama dan masyarakat non-Papua  lebih melibatkan diri dalam problematik yang dialami masyarakat Papua.

Hal ini kembali diungkapkannya saat diskusi Bedah Buku “Papua di Ambang Kehancuran” karya SKPKC Fransikan Papua, yang diadakan oleh Yayasan Teratai Hati Papua di Gedung Sosial Katolik Wamena.

Menurutnya, saat ini masyarakat Papua seperti berjalan dan berjuang sendiri. Gereja, jelasnya, semakin jauh dari pergumulan hidup umatnya, sementara non-Papua  sibuk menimbun harta untuk dikirim kembali ke kampung halamannya. Masyarakat Papua dibiarkan menderita dan mengalami ketidakadilan terus menerus.

Ia pun mencontohkan bagaimana kondisi Papua akhir-akhir ini di mana orang Papua berjuang sendirian menuntuk keadilan. Ia mengungkapkan bahwa ketika demo menuntut keadilan atau mengecam tindakan pelanggaran HAM oleh aparat, hampir semua orang Papua yang berteriak.

“Para pastor dan pendeta entah di mana, demikian pun pendatang tidak terlibat bahkan cenderung menghindar. Sayangnya suara orang Papua tidak didengarkan oleh Negara sehingga perjuangan mereka menuntut keadilan justeru seringkali membuat mereka jadi korban lagi,” katanya.

Padahal menurut Pater Frans, keadilan mestinya dibicarakan semua orang, baik itu orang Papua maupun non-Papua yang hidup di tanah Papua, termasuk para pemimpin agama.

Karena itu, dalam beberapa kesempatan demonstrasi damai di Wamena, Tete Lieshot pun ikut serta berjalan memantau proses demo. Karena kondisinya yang sudah tua, ia tidak mampu bertahan lama sampai demo usai. Namun, tindakannya menunjukkan bahwa siapa pun mesti ikut bergulat dan berjuang dalam persoalan yang dihadapi masyarakat Papua.

Sikapnya yang selalu berpihak pada masyarakat kecil yang menderita tidak muncul dengan sendirinya. Sikap itu muncul setelah ia harus menanggalkan perasaan superior sebagai bangsa yang maju di Belanda sana dan bersedia menyentuh kehidupan masyarakat kecil.

Ia terjun bersama masyarakat Papua dalam lumpur ketidakadilan dan dari sana ia tahu apa yang bisa ia perjuangkan. Karena keberakarannya pada kehidupan masyarakat yang dilayanilah, Pater Frans Lieshout pun teguh berdiri menantang ketidakadilan.

Untuk itu, ia berteman dan bergaul dengan siapa saja. Ia selalu akrab dengan orang-orang tua, tetapi juga bisa dengan mudah berbincang-bincang dengan anak-anak. Ia hadir di tengah umatnya bukan hanya untuk mengajar atau memberi kabar baik, ia pun belajar banyak sehingga bisa terus berkarya dan berjuang bersama masyarakat.

Dalam sisa-sisa waktu hidupnya di Wamena, ia masih tetap menunjukkan keberpihakannya.

Ketika para pengungsi Nduga diabaikan oleh pemerintah dan juga gereja, Ia menaruh perhatiannya dengan memberi semangat kepada para Tim Relawan Kemanusiaan untuk Pengungsi Nduga yang harus berhadapan dengan aparat karena mendirikan sekolah darurat untuk para pengungsi.

Ia pun rela mengambil uang sakunya untuk disumbangkan kepada Tim Relawan ketika mengetahui Tim Relawan sedang kesulitan menyediakan makanan bagi anak-anak pengungsi di Sekolah Darurat.

Kini, Tete Lieshot telah berpulang ke Rumah Bapa yang mengutusnya ke tanah Papua. Kepergiannya menyisahkan tanda tanya, sudahkah Gereja, non-OAP dan kita semua menjadi hitam dan keriting dengan bersedia melibatkan diri dan berjuang bersama masyarakat Papua?

Ia akan dikenang bangsa ini sebagai orang asing yang telah menjadi orang Papua dan berjuang melawan penderitaan mereka.

Selamat jalan Tete Lieshout!

Artikel ini diadaptasi dari naskah aslinya yang diterbitkan Nokenwene.com.