Kerja sama, kata para tokoh agama, sangatlah penting demi mencegah penyebaran virus. (Foto: Ist)

Katoliknews.comPara tokoh dari lima agama, termasuk dari Katolik, menekankan pentingnya usaha bersama menyikapi pandemi Covid-19 yang telah saat ini menjadi tantangan bersama bagi warga di berbagai belahan dunia.

Romo Fredy Rante Taruk, Direktur Eksekutif Caritas Indonesia – lembaga amal milik Gereja Katolik – mengatakan, pada prinsipnya, Gereja Katolik mengajarkan kepada umatnya kewajiban untuk bertindak demi kesejahteraan bersama.  

“Pada masa pandemi ini, aturan pemerintah tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), social distancing, work from home atau stay at home merupakan usaha untuk mencegah penyebaran Covid-19 demi kesehatan publik dan kebaikan bersama,” katanya, Kamis, 21 Mei 2020.

Ia mengatakan, sejak situasi darurat pandemi Covid-19, Gereja Katolik di 37 keuskupan di Indonesia telah mengeluarkan imbauan untuk meniadakan kegiatan di lingkungan gereja, baik liturgi maupun non-liturgi.

Romo Fredy Rante Taruk, Direktur Eksekutif Caritas Indonesia. (Foto: Antara)

Kepentingan terhadap perlindungan publik secara lebih luas, kata dia, menjadi pertimbangan penting yang paling utama. 

Sementara itu, Dewan Rohaniwan Pengurus Pusat Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Xs. Budi S. Tanuwibowo menyampaikan bahwa masalah Covid-19 telah menyadarkan setiap orang bahwa banyak hal yang belum bisa diatasi manusia dengan segala pencapaiannya selama ini. 

“Bangunan dan tatanan kesehatan, perekonomian, bisnis, pertahanan, sosial, politik, ilmu pengetahuan dan bahkan agama semuanya dibuat tak berdaya oleh jasad renik yang teramat kecil tak kasat mata yang dikenal sebagai Covid-19,” katanya.

Budi pun mengajak umat Khonghucu Indonesia untuk lebih disipilin menjalankan anjuran dan ketetapan protokol kesehatan. 

“Imbauan juga kami sampaikan kepada saudara-saudari sebangsa setanah air bersama-sama tanpa kecuali. Ibarat perjalanan di jalan raya, keselamatan kita tidak hanya ditentukan oleh kedisiplinan dan kehati-hatian kita sendiri orang per orang, tapi juga oleh seluruh pengguna jalan bersama-sama,” katanya.

“Kecerobohan seseorang bisa menghancurkan semuanya,” tambahnya.

Sementara itu, Pendeta Jacklevyn Manuputty, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mengimbau umat Kristiani untuk bersama-sama berusaha melawan penyebaran Covid-19.

“Dalam terang pengakuan ini, kita terpanggil untuk terus membela, merawat, dan memberikan kehidupan, bukan sebaliknya mengancam kehidupan,” katanya.

“Panggilan ini harus menjadi nyata dalam upaya kita untuk melawan Covid-19, yang salah satunya melalui kepatuhan kita terhadap anjuran pemerintah untuk berdiam di rumah,” tambahnya,

Jacklevyn menambahkan, “tahanlah hasrat anda untuk melakukan berbagai bentuk perjalanan yang dapat membesarkan potensi penularan Covid-19.”

Hal senada juga disampaikan pemuka agama Budha, Hong Tjhien, dari Yayasan Buddha Tzu Chi.

Menurutnya, ajaran guru Buddha tentang mindfulness dan awareness meminta umatnya untuk tidak lengah dan tetap waspada.

“Sebagai umat Buddha, kita meyakini hukum sebab akibat dan interdependensi. Keluar dari wabah ini tidak bisa lepas dari usaha kita sendiri,” ujarnya.

Pemuka umat Hindu, Nyoman Suartanu, dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), menambahkan, saat ini pemerintah telah memberikan petunjuk yang jelas bagaimana kita hidup dalam wabah Covid-19.

“Petunjuk itu tentunya telah melalui kajian yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai umat beragama, kita wajib mematuhi anjuran pemerintah ini dalam bingkai ketaatan kepada agama kita,” ujarnya.

Sementara itu,  kepada umat muslim yang akan merayakan Hari Raya Idul Fitri, Menteri Agama Fachrul Razi berpesan untuk melakukan takbir, sholat idul fitri dan berlebaran di rumah.

Melalui kecanggihan teknologi digital, kata dia, umat Islam juga dapat bersilaturahmi melalui media sosial. 

Perihal tradisi mudik, Fachrul menyampaikan agar umat Islam tidak mudik tahun ini demi mencegah penyebaran Covid-19.

“Berlebaran di rumah saja bersama keluarga inti. Tidak usah kemana-mana, dan tidak usah menerima tamu.”

BACA JUGA: Bagaimana Beriman di Tengah Pandemi Virus Corona?

Ia berharap umat Islam tetap merayakan Hari Idul Fitri ini dengan kegembiraan, tapi dengan tetap menaati protokol kesehatan.  

“Silaturrahmi tidak harus ketemu fisik. Silaturrahmi terjadi tidak hanya karena kedekatan fisik, tapi juga karena kedekaatan batin,” katanya.