Suasana gereja yang kosong saat tahbisan uskup baru di Filipinan, Mgr. Charlie Inzon, OMI pada Kamis, 21 Mei 2020. (Foto: Ist)

Katoliknews.comTak seperti biasanya, situasi tahbisan uskup baru di Pulau Sulu, Filipina berlangsung dalam gereja yang nyaris kosong.

Uskup Charlie Inzon, OMI ditahbiskan oleh Uskup Agung Cotabato, Mgr. Angelito Lampon, OMI pada Kamis, 22 Mei 2020.

Hanya siaran langsung lewat internet yang memungkinkan keluarga, kerabat dan umatnya bisa bergabung dalam perayaan itu.

Sebagaimana dilansir CBCP News, karena protokol karantina yang ketat akibat Covid-19, yang bisa hadiri dalam Misa di Katedral Cotabato sangat terbatas.

Pemerintah Filipina hanya mengizinkan maksimum 10 orang untuk menghadiri acara keagamaan di daerah-daerah yang dikarantina seperti Cotabato.

Mereka yang hadir itu termasuk Uskup Emeritus Cotabato, Kardinal Orlando Quevedo; Uskup Kidapawan, Mgr. Joseapin Josefin, tiga imam, dan beberapa anggota paduan suara.

Dalam situasi bangku gereja yang sepi, Uskup Inzon mengatakan dia tahu banyak dari teman-temannya dan orang yang ia cintai sedang menonton dan berdoa dari jauh.

Dia mengatakan upacara itu memang “langka dan belum pernah terjadi sebelumnya” tetapi meski sederhana, “Tuhan hadir di tengah-tengah perayaan ini.”

“(Tidak ada) yang dapat menghentikan kita dari merayakan anugerah dan rahmat Tuhan,” kata Uskup Inzon.

Dalam homilinya, Kardinal Quevedo menekankan bahwa seorang uskup harus menjadi “model” dalam hal iman yang luar biasa dan moral yang baik.

Dia mengatakan bahwa sebagai seorang gembala, seorang uskup juga dipanggil “untuk menjadi kudus” karena “dia dipanggil untuk membimbing umatnya menuju kekudusan.”

“Tugas ini benar-benar menantang,” kata Kardinal Quevedo, sambil menambahkan bahwa seorang uskup juga harus memimpin umatnya “ke jalan kebenaran dan keadilan.”

Paus Frasiskus menunjuk Uskup Inzon pada 4 April lalu. Ia tercatat sebagai Vikaris Apostolik keenam yang memimpin Vikariat Apostolik Jolo, ibukota Provinsi Sulu di Filipina selatan.

Uskup Charlie Inzon, OMI. (Foto: Ist.)

Imam berusia 54 tahun itu melayani sebagai Provinsial Kongregasi Oblat Maria Tak Bernoda (OMI) di negara itu ketika ia diangkat menjadi uskup.

Dia menggantikan Uskup Agung Lampon yang dipindahkan ke Cotabato pada akhir 2018.

Vikariat Apostolik adalah Gereja lokal di daerah misi yang tidak memiliki keuskupan. Pimpinannya disebut Vikaris Apostolik yang memerintah atas nama paus.

Berasal dari Provinsi Sorsogon, Uskup Inzon bergabung dengan OMI pada tahun 1982 dan mengikrarkan kaul kekal pada 8 September 1990.

Ia belajar filsafat di Universitas Notre Dame di Kota Cotabato dan teologi di Sekolah Teologi Loyola di Universitas Ateneo De Manila.

Dia ditahbiskan sebagai imam pada 24 April 1993, di Caloocan City.

Uskup Inzon memiliki gelar magister dalam bidang teologi dari Sekolah Teologi Loyola dan doktor dalam bidang psikologi dari Universitas Ateneo de Manila.

Pada hari-hari menjelang pentahbisan, ia mengatakan, “Saya bersukacita dalam belas kasihan Allah dan percaya pada jaminan kekuatan dan penghiburannya ketika saya menerima pelayanan  ini di Vikariat Jolo.”

Uskup Inzon akan secara resmi bertugas sebagai menerima tugas baru Vikaris Jolo dalam acara di Katedral Gunung Karmel pada 28 Mei.