Berita Terkait Gereja Katolik
Senin, 29 Mei 2023
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Berita Terkait Gereja Katolik
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Home Antaragama

Penistaan Agama: Reaksi Berbeda Antara Bom di Samarinda dan Kasus di Jakarta

14 November 2016
in Antaragama, Feature, Nusantara, Pilihan Editor
0
Penistaan Agama: Reaksi Berbeda Antara Bom di Samarinda dan Kasus di Jakarta

Bom meledak di depan pelataran gereja di Samarinda, Minggu, 13 November 2016. (Foto: AFP)

Katoliknews.com – Linimasa dipenuhi ungkapan duka, sedih, dan marah setelah bom meledak di pelataran Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda Kalimantan Timur, Minggu, 13 November 2016.

Sebagian bahkan mempertanyakan mengapa penolakan atas ‘aksi teror yang mengatasnamakan agama’ itu tidak kencang disuarakan seperti dugaan penistaan agama baru-baru ini.

Empat balita mengalami luka bakar akibat ledakan bom molotov, satu di antaranya Intan Olivia Marbun berusia dua tahun, meninggal dunia hari ini, Senin akibat luka bakar yang diderita hampir di seluruh tubuhnya.

“Sayangnya, dokter tidak bisa menyelamatkan korban… dia meninggal pagi ini,” kata Fajar Setiawan kepada AFP.

BacaJuga

Pastor di Sri Lanka Gugat Perdana Menteri Karena Dianggap Lalai Cegah Bom Gereja

Jokowi: Cepat Tangani Kasus Bom di Gereja di Samarinda

Suasana duka menyelimuti media sosial hari ini, sebagian menggunakan tagar ‘RIP Intan’ untuk mengungkapkan kesedihan.

“Duka yang mendalam,” kata satu pengguna Twitter. “Kamu enggak salah apa-apa nak, istirahatlah dengan tenang. Maafkan kami. Maafkan kami. Maaf,” kata yang lain.

“Turut berduka cita untuk Intan Olivia, anak kecil lugu tanpa dosa yang jadi korban kebiadaban orang yang mengaku membela agama,” kicau Abi Hasantoso.

 

Terduga pelaku, yang menggunakan kaos bertuliskan ‘Jihad, way of life‘ ketika ditangkap, tercatat pernah melakukan aksi teror sebelumnya termasuk kasus bom buku di Jakarta pada 2011 lalu, kata polisi.

Presiden Joko Widodo dengan tegas mengatakan kasus bom Samarinda ‘harus diusut secara tuntas’ dan meminta kepolisian melakukan ‘penegakan hukum yang tegas’. Dan, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj menyatakan pihaknya ‘mengutuk keras peristiwa kekerasan oleh dan atas nama apapun’.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam sejumlah laporan juga menyatakan mengutuk aksi teror yang ‘bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama dan nilai-nilai Pancasila.

‘Penistaan luar biasa’

Namun di balik duka itu, banyak orang di media sosial mempertanyakan mengapa perlawanan atas aksi teror itu tidak banyak bergaung di media sosial. Sebagian bahkan membandingkannya dengan suara-suara yang riuh berkomentar tentang kasus dugaan penistaan agama dengan terlapor Basuki Tjahaja Purnama, yang menuai aksi turun ke jalan melibatkan puluhan ribu orang.

“Yang kencang bela agama kebanyakan anteng-anteng saja ketika bom molotov di gereja yang menewaskan anak kecil di Samarinda, bahkan cenderung sinis,” kata satu pengguna Twitter.

Ezki Suyanto bertanya, “Bapak-bapak MUI, Bapak-bapak FPI, Bapak-bapak NU, Bapak-bapak Muhammadyah, Ibu-ibu khilafah, maukah mendoakan Intan yang wafat korban bom Samarinda atas nama Islam?”

Kepada BBC Indonesia, aktivis LSM Pusat Studi Agama dan Perdamaian (ICRP) Ahmad Nurcholish mengungkap pertanyaan yang sama. “(Aksi teror) itulah yang sesungguhnya penistaan terhadap agama. Tapi di mana suara mereka yang tanggal 4 November kemarin turun ke jalan? Mana komentarnya? Saya menunggu tetapi tidak ada?”

“Pelaku yang melakukan pengeboman di gereja kemarin itulah penistaan luar biasa terhadap agama,” sambungnya. “Harusnya, seberapa besar pun teror, semua masyarakat Indonesia perlu merasa prihatin dan mengupayakan bagaimana supaya itu tidak terjadi.”

Ahmad Nurcholis mengatakan semua pihak “harus berkomitmen kepada landasan hukum.”

“Kita punya konstitusi bernama Pancasila dan UUD 1945. Itu sebagai perekat utama bagaimana kita tetap bersatu dalam konteks NKRI,” katanya.

Sumber: BBC Indonesia

Artikel Berikut
Presiden Jokowi Ajak Mayoritas dan Minoritas Tetap Bersatu

Presiden Jokowi Ajak Mayoritas dan Minoritas Tetap Bersatu

Balita Korban Bom Gereja Samarinda Meninggal Dunia

Balita Korban Bom Gereja Samarinda Meninggal Dunia

Komentar

Berita Terkait Gereja Katolik

Katoliknews.com menyajikan berita-berita tentang Gereja Katolik dan hal-hal yang terkait dengannya, baik di Indonesia maupun di belahan dunia lain.

Artikel Terbaru

  • Tujuh Kutipan Kitab Suci yang Menarik untuk Momen Pernikahan Anda
  • Paroki St. Michael Beanio Gelar Kursus Persiapan Perkawinan Katolik, Diikuti Puluhan Pasangan

Ikuti Kami

Facebook Twitter Instagram

Tentang Kami

  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan dan Partner
  • Kontak

© Katoliknews.com

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Dunia
  • Vatikan
  • Sosok
  • Opini
  • Katekese
  • Inspiratif

© 2020 Katoliknews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In