Uskup Tanjung Karang, Mgr Yohanes Harun Yuwono, sedang menyanyikan lagu "Nderek Dewi Maria" didampingi Lisa A Riyanto, dalam pagelaran Charity Music Concert "Ave Maria", Dom Harvest, Lippo Karawaci, Sabtu, 28 Mei 2016. (Foto: Putut Prabantoro)

Katoliknews.com – Meski mengaku tidak bisa menyanyi karena sulit untuk menghafal lagu “Nderek Dewi Maria,” namun Uskup Tanjung Karang, Mgr Yohanes Harun Yuwono Pr akhirnya bersedia melantunkan lagu itu dalam sebuah acara konser musik amal (charity music concert).

Konser bertajuk Ave Maria itu digelar di Dom Harvest, Lippo Karawaci, Tangerang pada Sabtu, 28 Mei 2016, dengan intensi menggalang dana renovasi Gua “Maria Bunda Segala Bangsa” Padang Bulan di Pringsewu, Lampung.

“Saya sebenarnya tidak bisa menyanyi karena untuk menghafal lagu yang singkatpun sulit sekali. Bahkan untuk menyanyikan lagu ini saya harus membuat contekan,” katanya sebelum akhirnya menyanyi diiringi Musica Sacra Orchestra serta didampingi Lisa A Riyanto, yang merupakan bintang tamu acara itu.

Mgr Yuwono mengatakan, ia bersedia menyanyi demi menghargai banyak orang yang dengan tulus telah bekerja bagi pembangunan dan renovasi Gua Maria Bunda Segala Bangsa.

Dengan mengenakan pakaian kebesaran seorang Uskup, ia dengan mantap dan nyaring menyanyikan bait demi bait “Nderek Dewi Maria”, senandung pujian yang sangat terkenal dalam devosi masyarakat katolik Jawa kepada Bunda Maria.

Gua Maria Bunda Segala Bangsa merupakan salah satu destinasi wisata religi bagi umat Katolik Indonesia dan sering disebut dengan nama “Lourdes Van Lampung”.

Berdasarkan sejarah yang ditulis oleh Uskup Tanjung Karang, mendiang Mgr Andreas Henrisoesanta, pendahulu Mgr Yuwono, tempat didirikannya Gua Maria itu pada mulanya adalah tempat untuk bersembunyi bagi para imam dan masyarakat sekitar pada masa penjajahan Jepang di tahun1942 yang kemudian disusul pada 1949.

Saat itu, agresi Belanda mulai masuk ke Pringsewu.  Tempat ini menjadi lokasi bagi para gerilyawan untuk menyusun siasat dan beroperasi bahu-membahu berjuang melawan penjajah.

Pada masa itu, air sebagai kebutuhan vital sangat sulit didapat, namun di lokasi ini ada sebuah mata air atau sendang yang tidak pernah kering.

Akhirnya, untuk menjawab kerinduan umat kristiani akan sebuah tempat ibadah, dibangunlah Gua Maria di lokasi tersebut.

Edy/Katoliknews 

Komentar