Ilustrasi. (Foto: Ist)

Katoliknews.comUmat Katolik di Korea Selatan sedang menggelar kampanye masif menentang aborsi, menyusul adanya keputusah Mahkamah Konstitusi negara tersebut baru-baru ini yang tidak lagi mengkriminalkan aborsi.

Surat kabar Minggu, the Catholic Times pun memproduksi teks-teks doa yang meminta perantaraan Bunda Maria dari Guadalupe, untuk melindungi bayi yang belum lahir, dan mendesak umat Katolik Korea mendaraskan doa-doa tersebut. 

Seperti dilaporkan Ucanews.com, hingga 7 Juni, warga Korea telah diberikan lebih dari 15.000 teks doa tersebut.

MK menyatakan pada April bahwa pemidanaan terhadap aborsi adalah inkonstitusional.

Sejak keputusan itu, mingguan itu telah memproduksi pesan-pesan dengan tema  “Marilah Menciptakan Budaya Kasih dan Kehidupan.”

Pastor Pius Yi Ki-soo, direktur the Catholic Weekly, mengatakan: “Banyak nyawa janin binasa karena aborsi – nyawa merupakan anugerah tak ternilai dari Tuhan. Silahkan bergabung dengan kampanye kami untuk menyelamatkan nyawa semua janin.”

Tahun 2017, Konferensi Waligereja Korea mengadakan gerakan doa 100 hari sambil mengumpulkan tandatangan untuk menentang upaya peniadaan pidana bagi aborsi.

Dari tahun 2013 hingga 2015, konferensi uskup telah mengadakan kampanye doa 40 hari selama Masa Prapaskah.

“Namun, terlepas dari kampanye doa tersebut, ada suara-suara bahwa Gereja perlu mengadakan kampanye terus-menerus. Kampanye doa dari the Catholic Times akan terus berlanjut hingga aborsi berakhir di Korea,” kata Pastor Yi.

Pada April, uskup agung Seoul berbicara setelah MK menyerukan perubahan legislatif untuk sebagian mengizinkan pengguguranpada tahap awal kehamilan.

Sementara sejumlah organisasi perempuan dan kesehatan menyambut baik keputusan itu karena memberikan mereka hak untuk mengambil keputusan, kata Kardinal Andrew Yeom Soo-jung dalam pesan Paskah guna mengungkapkan keprihatinannya.

“Sebuah negara memiliki tanggung jawab untuk melindungi kehidupan rakyatnya dan keamanan dalam kondisi apapun. Setiap kehidupan, dari saat pembuahan, harus dilindungi sebagai manusia dan menghormati martabatnya,” katanya.

Sementara mendesak anggota parlemen untuk mengubah undang-undang dengan hati-hati, ia meminta umat beriman untuk menjadi yang pertama memilih kehidupan daripada kematian.

“Kita, umat Allah, hendaknya secara konkret melayani dan berkorban untuk kehidupan. Di antara berbagai kendala dan kesulitan sosial, kita orang Kristen harus dengan tegas menolak budaya dan godaan untuk membunuh janin,” katanya.

“Ketika kita, diri kita sendiri, mulai memilih, menghormati setiap kehidupan apa adanya, kita pasti akan dapat mengalami Tuhan Yang Bangkit yang hidup di sini bersama kita,” tambahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here