Diresapi Semangat Communio

Epilog untuk Kumpulan Esai RD Stefan Kelen Pr

Oleh: Andreas Atawolo OFM

Catatan: Tulisan ini merupakan epilog untuk buku kumpulan esai “Wajar Adanya Kata” (2019) karya RD Stefan Kelen, Ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Pangkalpinang

Kumpulan esai dalam buku ini mengungkapkan dengan jelas bahwa Romo Stefan tidak asal menulis. Ia menulis berdasarkan pengalaman, khususnya pengalaman pastoralnya sebagai seorang imam di Keuskupan Pangkalpinang. Dalam pembacaan saya, spirit communio sungguh mewarnai cara penulis memandang, memahami dan menilai setiap realitas.

Kumpulan esai ini ibarat sebuah jurnal. Penulis  merekam obrolan orang di warung kopi, kesibukan orang di pasar, kehidupan keras di terminal bus, ‘solidaritas’ para calo di pelabuhan, tetapi juga obrolannya bersama rekan-rekan imam pada kesempatan tertentu. Fenomena-fenomena lain seperti terorisme dan konflik interese para penguasa pun turut direkam. Realitas sosial disajikan dengan teropong filsafat dan teologi, namun terasa ringan, inspiratif, dan sesekali dibumbui humor.

Wajar Adanya Kata

Lebih dari sekedar judul, kata-kata ini merupakan ekspresi kesadaran. Hidup ini sesuatu yang wajar dan nyata. Kita tidak mampu memahami dunia tanpa menjadi pelaku di dalamnya. “Manusia menjadi subjek utama sejarah untuk memunculkan harapan dan peluang”, mengutip Arnold Toynbee. Manusia itu pelaku tetapi tentu bukan tuan atas waktu. Bumi tempat berpijak, demikian esai ke enam belas. “Bumi, tempat berpijak, membentuk kita untuk bisa kandas, atau hanya berhasil karena kekuatan senjata, orang ramai dengan kekayaan”.

Kata-kata Hobes, Homo homini lupus, untuk melukiskan ciri serigala dalam diri manusia, sangat nyata. Maka, tujuan melihat realitas secara lugas bukanlah untuk menyerah, melainkan mengambil langkah pembaruan. “Sebab, pengaharapan dan mimpi tidak pernah menyangkal masa depan. Tetapi juga tidak mengutuk masa silam”. Kekristenan tidak menawarkan candu bagi umatnya. Sebagai sebuah kebajikan, harapan bukanlah utopia yang meninabobokan manusia. Berharap berarti terlibat aktif, mengambil langkah pembaruan, bahkan mau berkorban.

Communio

Kata communio berasal dari akar kata mun yang berarti ‘kubu’, ‘pertahanan’ (kata Latin ‘moenia’ = tembok kota). Orang-orang yang hidup dalam communio berada dalam satu kubu pertahanan, yaitu nilai eksistensial yang komunal, di mana setiap pribadi mengambil bagian dalam ‘kubu’ tersebut. Kata dasar mun juga ekuivalen dengan munus yang berarti ‘tugas’, ‘pelayanan’, ‘pemberian diri’, ‘hadiah’. Setiap orang yang berada dalam communio, melakukan tugas pelayanan bagi pribadi lain. Sebuah communio bertahan ketika setiap pribadi melakukan peran yang berbeda-beda, namun demi kelanjutan persekutuan itu.

Sejak definisi Boethius terhadap kata persona, umumnya dikenal distingsi antara qualitas singularis dan qualitas communis. Yang pertama menunjuk individu partikular (propria et incommunicabilis), misalnya Plato dan Aristoteles. Yang kedua menunjuk dimensi komunal, yaitu kemanusiaan. Dalam communio, unsur-unsur partikular ditempatkan dalam sebuah nilai universal yang melingkupi (moenia) setiap pribadi. Dengan demikian pribadi tidak tenggelam dalam kolektivisme, melainkan secara bebas mengekspresikan karismanya sebagai hadiah bagi kepentingan komunal.  Kata communio paralel dengan kata koinonia(bahasa Yunani), yang juga berarti ‘persekutuan’. Dan inilah spirit dasar hidup menggereja sejak jemaat perdana.

Kiranya bukan tanpa alasan jika Romo Stefan menulis kata ini berulang kali. Kata tersebut menjiwai seluruh cara pandangnya dalam buku ini: dari sebagai ungkapan kesatuan (unio) para Imam Keuskupan sampai ekspresi melukiskan sebuah taktik sepak bola ataupun band musik kesayangannya. Dalam konteks yang berbeda-beda, istilah ini bermakna sama: komitmen setiap pribadi dalam sebuah komunitas. Ibarat para pemain sepak bola yang memainkan aksi individu untuk memenangkan timnya, demikian pula tugas pelayanan setiap pribadi, apapun profesinya, merupakan persembahan bagi persekutuan. Kata Paus Fransiskus dalam Laudato Sí, seluruh semesta ini adalah ‘rumah bersama’ (LS. 1). Setiap orang dipanggil ikut merawat rumah kita ini.

Bagi orang Kristen kata communio tidak identik dengan gagasan ‘komunis’ Karl Marx. Marx memang berjasa menginspirasi masyarakat kelas bawah untuk berjuang melawan kaum elit pemilik modal. Itu wajar adanya kata. Namun communio Kristiani tidak identik dengan sistem masyarakat tanpa kelas. Dalam communio, ada yang berperan sebagai pemimpin, yang lain sebagai anggota. Ada bermacam-macam karunia tetapi satu Roh (bdk. 1Kor 12: 12-20). Gagasan ini telah menginsipirasi model “Gereja Partisipatif”. Menurut model tersebut peran yang berbeda-beda disatukan dalam satu tujuan, bukan demi persaingan massa atau kekuasaan pemimpin, melainkan “persaudaraan semesta” (St. Fransiskus Assisi).

Kebenaran

Dalam cita-cita persaudaraan semesta itu sistem politik tidak cukup ditopang oleh gagasan yang rasional, melainkan kehadiran nyata para pemimpin di tengah masyarkat, khususnya mereka yang terpinggirkan. Benar kata Romo Stefan, ‘silat lidah itu berstandar ganda’. Dikatakan ‘berstandar ganda’, sebab pemikiran logis dan retorika yang teratur bukan jaminan terakhir sebuah kebenaran (veritas). Bagi orang Kristen, tidak ada kebenaran ganda (double truth). Hanya seorang Yesus dari Nazaret itu yang pantas mengklaim diri “Akulah jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14: 6). Satu hal jelas pada diri Yesus: menjalani secara konsisten setiap norma-norma yang Ia ajarkan, sampai mengurbakan diri. Hidup dan pribadi-Nya memancarkan satu keyakinan: Deus Caritas est. Inti Kabar Baik jelas: “peradaban kasih tak pernah kalah”.

Seruan kebenaran termuat juga dalam cita-cita Negara Indonesia. Prinsip nasionalisme NKRI sangat jelas: “hanya ada satu Indonesia, satu bangsa yang bersatu di bawah tujuan yang sama”. Gereja Katolik turut menyuarakan nasionalisme ini. Visi Gereja tentang kepemimpinan terbalik persis dari gaya kepemimpinan ‘bung busuk’. Jiwa kepemimpinan Gereja ialah Kabar Baik “solidaritas ke-Allah-an”. Dalam diri dan hidup Yesus dari Nazaret, tampak jelas wajah Allah yang solider dengan manusia. Allah berada di tengah-tengah umat-Nya. Ia mengasihi setiap pribadi. “Seandainya semua pemimpin bisa duduk di tengah….alangkah indahnya harmoni. Tidak ada politik, apalagi konspirasi”. Benar kata Romo Stefan, “Ekstrem bersebelahan, diharmonikan dalam komunio”.

Kebhinekaan di negeri beribu pulau serta beranekaragam budaya dan agama ini janganlah dipermainkan oleh para aktor, yang oleh Romo Stefan disebut “bung busuk” (esai kedua), yaitu mereka yang memimpin dengan topeng agama, yang menyebut diri ‘tuhan’, ‘yang mutlak’, yang hanya berambisi mengejar ‘pembagian jatah’, atau yang “membunuh orang supaya masuk surga”. Ambisi kekuasaan itu memang patut disindir: “Kuasa sesungguhnya adalah lumpur yang telah dipromosikan menjadi ‘mutiara’ yang absurd bagi kawanan kecil”.

Blusukan

Jika ada pemimpin yang terlalu arogan dan bernafsu mencari kekuasaan, mungkin ia belum menemukan bahwa bersyukur itu jalan menuju sukacita batin,  bahwa “hidup tak bedanya dengan kesempatan bersyukur”. Orang yang tidak tahu bersyukur akan terus mengejar kepuasan. Ia ingin memiliki yang lebih banyak, lebih memuaskan, lebih besar dan lebih mewah. Seorang egois tidak mengenal kata ‘cukup’. Prinsip berbagi tidak masuk dalam kamus hidupnya. Karakter seperti ini nyatanya tampak dalam diri banyak pemimpin politik.

Namun karakter keji ini sedang dilawan, dan memang pantas untuk dilawan. Ada orang baik yang melawannya dengan cara blusukan (esai dua puluh enam). Tujuan asli dari blusukan bukanlah pencitraan, tetapi demi “bonum commune”. Mata polos masyarakat tentu mampu membedakan, siapa yang melakukan blusukan secara tulus dan siapa yang sedang show. Orang benar sadar, “kejujuran mengalahkan kelicikan hegemoni”. Sekali lagi, spirit kepemimpinan yang jujur ini telah ditunjukkan oleh anak tukang kayu dari Nazaret itu. Dialah… “satu-satunya pemimpin. Walapun Sang Pemimpin harus bergantung di kayu palang penghinaan. Tetapi bangkit dan Roh-Nya menyertai segala bangsa. Itulah kasih”. Sebab itu, dalam persekutuan Gereja lokal yang dipimpin Uksup, “tak ada lain yang menjadi pusat, selain Kristuslah pusat Gereja-Nya”. Terinspirasi oleh teladan Sang Pemimpin ini, penulis mengakhiri karyanya ini dengan sebuah ajakan: “Mari, bangkitlah membangun komunio”.

Buku karya Romo Stefan ini pantas dipersembahkan bagi publik. Ia menyapa semua kalangan. Selamat untuk Romo Stefan. Selamat juga bagi Anda, pembaca budiman, yang telah menyimak esai-esai penuh makna ini. Kita menanti karya-karya berikut dari Romo Stefan. Pace e Bene!

Artikel ini sebelumnya dimuat di Andreatawolo.id, blog milik RP Andre Atawolo OFM. Silahkan membaca tulisan lain dari  pengajar teologi dogmatik di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini dengan mengklik di sini!