Presiden Filipina, Rodrigo Duterte (Foto: ist)

Katoliknews.comEmpat uskup di negara mayoritas Katolik Filipina dituding melakukan penghasutan yang menyasar Presiden Rodrigo Duterte.

Kasus ini kini sedang ditangani pihak Kepolisian Filipina.

Keempat uskup yang menghadapi tudingan ini antara lain Uskup Cabao, Mgr Honesto Ongtioco, Uskup Kalookan, Mgr Pablo Virgilio David, Uskup Emeritus Teodoro Bacani Jr. Uskup Agung Lingayen-Dagupan, Mgr Socrates Villegas.

Bersamaan dengan mereka, tiga orang imam yang juga vokal mengkritik Duterte ikut dituding, juga Wakil Presiden, Leni Robredo dan 35 anggota oposisi pemerintah, dengan dalil bersekongkol untuk menyebarkan informasi palsu terhadap keluarga Presiden Filipina, Rodrigo Duterte dan pejabat pemerintah.

Ketiga imam itu adalah Pastor Flaviano Villanueva SVD, Pastor  Albert Alejo SJ dan Pastor Robert Reyes.

Dilansir ucanews.com, mereka juga dituding ingin “menggerakan masyarakat umum untuk mengadakan protes massal dengan kemungkinan menjatuhkan presiden.”

Tidak Masuk Akal

Kasus ini telah menimbulkan keprihatinan bagi para pimpinan Gereja.

Ketua Konferensi Para Uskup Filipina, Uskup Agung Romulo Valles mengatakan “sangat sedih dengan berita terkait kasus ini.”

Ia menyatakan tudingan yang dialamatkan kepada mereka tidak masuk akal.

Ia mengatakan mengenal para pemimpin gereja yang dituding itu, yang cintanya kepada negara  dan rakyat Filipina tidak diragukan lalu.

“Beberapa mungkin ada yang merasa merasa tidak nyaman dengan cara mereka mengemukakan pendapat, tetapi saya mau mengatakan ini: Saya tidak dapat meyakinkan diri saya bahwa para uskup ini terlibat menghasut,” katanya.

Sementara itu, Pastor Robert Reyes, salah seorang tertuduh, mengatakan tuduhan itu adalah “langkah putus asa untuk menekan perbedaan pendapat.”

Wakil Presiden, Leni Robredo juga ikut dituding melakukan penghasutan. (Foto: AFP)

Pastor Jerome Secillano, ketua kantor urusan publik Konferensi Para Uskup mengatakan, langkah itu jelas bermaksud menakut-nakuti para pemimpin gereja agar mereka bungkam.

Dia mengatakan, yang dilakukan para uskup dan imam adalah meminta pemerintah untuk tidak sewenang-wenang.

“Saya yakinkan Anda, mereka melakukan hal-hal itu bukan untuk keuntungan pribadi atau kepentingan diri sendiri, tetapi demi mereka yang tidak bisa memperjuangkan hak-hak mereka,” tambahnya.

Mendapat Dukungan Awam

Para uskup dan imam mendapat dukungan dari Yayasan Couple for Christ, s organisasi awam  berpengaruh.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada 20 Juli, kelompok itu mengatakan,mereka mendorong para uskup dan imam “melanjutkan kampanye berani mereka dalam upaya bersama dengan semua orang Filipina untuk kebenaran dan keadilan.”

Mereka menegaskan, “berbicara tentang kebenaran dan memperjuangkan hak asasi manusia warga Filipina, bukanlah hasutan,” kata kelompok itu.

“Hal demikian sejalan dengan ajaran Kristus dan Gereja,” kata mereka.

Tuduhan berawal dari beredarnya sebuah di media sosial pada awal tahun ini yang menghubungkan Duterte dan keluarganya dengan perdagangan ilegal obat terlarang.

Seseorang yang bernama Peter Joemel Advincula yang ada dalam video itu mengatakan dalam sebuah media briefing bahwa putra Duterte, Paolo Duterte, dan pembantu presiden Bong Go terlibat dalam sindikat narkoba.

Namun, berminggu-minggu kemudian, ia dihadirkan pada konferensi pers oleh Kepolisian Nasional Filipina di mana ia mengklaim Wakil Presiden Leni Robredo, anggota oposisi dan beberapa tokoh gereja berada di belakang upaya melawan presiden.

Duterte terkenal dengan emosi dan amarahnya yang meledak-ledak terhadap para kritikus, terutama mereka yang memberinya peringatan atas tindakan keras terhadap masalah narkoba, yang telah menyebabkan sedikitnya 6.600 tersangka kasus narkoba tewas.