Sejak invasi dan genosida pada tahun 2014 oleh kelompok ISIS di Irak, setidaknya 16.000 orang Kristen Assyria di negara itu telah menjadi pengungsi di Yordania. Sebagian besar masih menderita secara ekonomi dan psikologis. Foto: Kamp pengungsi Za'atari di Yordania. (Foto: Jeff J Mitchell/Getty Images)

Oleh: UZAI BULUT

Semenjak Negara Islam (ISIS) melakukan penyerangan dan pembantaian massal di Irak pada 2014, sedikitnya 16.000 umat Kristen Asyur dan Irak menjadi pengungsi di Yordania. Sebagian besar dari mereka masih menderita secara ekonomis dan psikologis menyusul situasi yang sangat sulit.

Keberadaan mereka di sana memang hanya sementara. Direncanakan, mereka akan beremigrasi ke negara ketiga. Namun, karena tidak diberikan ijin kerja resmi dari Pemerintah Yordania, mereka hanya mengandalkan tabungan dan uang kiriman kerabat mereka di luar negeri atau bantuan lembaga-lembaga amal dan gereja. Yordania agaknya menjadi negara singgahan sementara. Mereka sedang mencari tempat pemukiman kembali di berbagai negara via Kantor Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) serta Program Kemanusiaan Khusus Australia.

Umat Kristen Asyur adalah masyarakat pribumi Irak. Selama beberapa dekade, mereka dianiaya secara mengerikan. Menurut sebuah laporan Konfederasi Asyur Eropa yang dikeluarkan pada 2017; “Masyarakat Asyur merepresentasikan satu dari komunitas yang paling konsisten disasar di Irak sepanjang sejarah modernnya. Sasaran itu termasuk pembantaian oleh negara di Simele pada 1933; kampanye Anfal oleh Saddam Hussein yang menyasar desa-desa Asyur; teror mengerikan pasca serangan AS pada 2003. Dan akhirnya, bab terakhir yang baru-baru ini dirancang oleh organisasi jihad Negara Islam.”

Semenjak itu, umat Kristen Asyur dipaksa meninggalkan tanah tumpah darah nenek moyang mereka, mencari suka di manapun, termasuk di Yordania. Setibanya di Yordania, mereka mendaftar diri di Pusat Pendaftaran UNHCR di Amman dan mendapatkan kartu pendaftaran khusus.

Pendaftaran pada UNHCR memberikan kepada mereka status perlindungan pengungsi sambil menunggu pemukiman kembali. Namun, proses pemukiman membutuhkan waktu sedikitnya beberapa bulan. Kerapkali proses itu bahkan bertahun-tahun akibat meningkatnya jumlah pengungsi lama. Masyarakat Asyur karena itu hidup sebagai pengungsi perkotaan. Artinya, mereka menghadapi banyak tantangan kehidupan ketika tidak banyak akses mereka peroleh untuk bisa mendapatkan pelayanan kemanusiaan karena hidup benar-benar terisolasi.

Pada tanggal 20 Juni 2019 lalu, Institut Kebijakan Asyur (API) menerbitkan sebuah laporan. Judulnya, “Lives on Hold: Assyrian Refugees in Jordan” (Bertahan Hidup: Kasus Pengungsi Asyur di Yordania). Isinya, adalah berbagai wawancara oleh para pengarang terhadap banyak umat Kristen Asyur di Yordania. Menurut laporan itu, akar penyebab emigrasi masyarakat Asyur dari Irak sejak 2014, disebabkan oleh misalnya “situasi yang tidak stabil dan kehancuran terus menerus yang abadi, kurangnya kepercayaan terhadap berbagai aktor keamanan, kurangnya peluang memperoleh mata pencaharian, hilangnya harta benda pribadi, ketakutan terhadap perubahan demografis dan kekhawatiran terhadap kekerasan masa depan yang menyasar masyarakat Asyur.”

“Pengungsi Asyur mengalami banyak pengalaman traumatis karena berhadapan dengan perang, penganiayaan etno-religius, penindasan politik, pemindahan paksa dan genosida. Menurut Pusat Bantuan Teknis Kesehatan Pengungsi, trauma pengungsi seringkali mendahului peristiwa-peristiwa yang pertama-tama terkait dengan perang yang menyebabkan mereka melarikan diri.

“Sebelum berangkat dari Irak, mereka mungkin mengalami dipenjara, penyiksaan, pemindahan paksa, penyerangan fisik, pemerkosaan, penculikan, penganiayaan karena agama, kehilangan harta benda, kehilangan mata pencaharian, perpisahan keluarga, dan ketakutan yang ekstrim.”

Namun, trauma warga Kristen Asyur belum berakhir di Yordania, tempat mereka dipaksa melarikan diri. “Sebagian besar dari mereka yang terlantar menunggu selama lebih dari dua tahun. Beberapa bahkan sejak kebangkitan ISIS pada 2014,” demikian dikatakan laporan itu. “Penantian mereka supaya bisa dimukimkan kembali ditandai oleh informasi yang terbatas, ketidakpastian tentang masa depan mereka dan rasa putus asa yang semakin meningkat.”

Ketika ditanya tentang faktor-faktor yang mendorong mereka mencari pemukiman kembali di negara ketiga, para pengungsi itu mengungkapkan alasan-alasan berikut: “keselamatan, kebebasan beragama, penghormatan terhadap hak asasi manusia, kesempatan pendidikan dan ekonomi yang setara, dan penyatuan kembali keluarga”.

Di antara masalah paling serius yang dihadapi pengungsi Kristen Irak di Yordania adalah: “Sebuah studi baru-baru ini yang dilakukan Pemerintah Yordania menemukan bahwa hampir empat puluh persen pengungsi perkotaan tidak mampu membeli obat-obatan yang dibutuhkan atau mengakses layanan perawatan kesehatan. Lebih dari tiga puluh persen rumah tangga yang diwawancarai API melaporkan setidaknya satu anggota rumah tangga menderita penyakit kronis atau cacat. Karena itu, pantas untuk mencatat bahwa mereka berjuang untuk mengakses obat atau perawatan yang terjangkau.”

“Akses terhadap pendidikan bagi anak-anak pengungsi Asyur di Yordania terbatas. Banyak orangtua khawatir anak-anak mereka menjadi bagian dari generasi yang hilang.”

“Pengungsi Asyur dari Irak tidak bisa mendapat izin kerja yang diperlukan untuk dipekerjakan secara legal di Yordania karena proses administrasi yang ketat dan biaya pengajuan yang sangat mahal.”

“Para pengungsi Asyur juga menderita apa yang disebut sebagai ‘silent kiler’, pembunuh yang diam.  Seperti akibat lamanya masa menunggu, bosan, putus asa dan isolasi. Seperti kebanyakan orang yang terlantar, perasaan letih dan frustrasi membenam mereka. Kehidupan menjadi monoton bagi banyak pengungsi. Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun menunggu pemukiman kembali dengan sedikit pekerjaan sehari-hari. Lamanya masa menunggu visa memang sudah diantisipasi, namun, tidak ada jaminan untuk dimukimkan kembali.

“Hampir separuh rumah tangga yang tersisa di Yordania melaporkan bahwa aplikasi mereka untuk dimukimkan kembali melalui Program Kemanusiaan Khusus Australia ditolak sejak  wawancara awal mereka dengan Institut Kebijakan Asyur (antara Desember 2017 dan Januari 2018). Jika ditolak, tidak ada lagi kesempatan untuk banding. Namun, pelamar punya pilihan untuk mengajukan kembali. ”

Lorance Yousuf Kazqeea, seorang Kristen yang berasal dari Baghdad, misalnya. Ia pencari suaka di Yordania bersama istri dan dua anaknya sejak September 2017. Hingga kini, dia masih berusaha berimigrasi ke Amerika Serikat. Kepada lembaga kajian Gatestone Institute dia mengaku; “Tantangan terbesar bagi kami di sini adalah bahwa pengungsi Kristen Irak tidak bisa bekerja secara legal. Saya spesialis TI (teknologi informasi) di Baghdad. Banyak umat Kristen dari Irak dulu punya pekerjaan atau bisnis yang bagus di sana. Tetapi kami kehilangan segalanya. Bagaimana kami seharusnya mendukung keluarga kami sekarang? Kami andalkan bantuan dari organisasi amal, gereja dan anggota keluarga di luar Yordania. Dan dalam kasus-kasus khusus dan langka pengungsi mendapat gaji bulanan dari UNHCR.”

“Orang Kristen dari Irak ingin pindah ke Barat demi keamanan dan stabilitas. Tetapi sejak Januari, prosesnya menjadi lebih lambat dan lebih sulit. UNHCR bahkan belum memberikan status pengungsi bagi pendatang baru sejak itu. Mereka hanya memberi mereka tanggal penetapan sebagai pengungsi (appointment) namun belakangan membatalkan lagi tanggalnya dan memberikan tanggal baru. Jadi kita semua terus menunggu. ”

Pihak UNHCR sudah didekati Gatestone untuk memberikan komentar tetapi belum menjawab.

Juliana Taimoorazy, presiden pendiri Dewan Bantuan Kristen Irak, yang telah aktif di Yordania sejak 2015, mengatakan kepada Gatestone: “Pengungsi Asyur di Yordania kehilangan segalanya di Irak. Salah satu korban yang organisasi kami coba bantu adalah seorang ibu Kristen berusia 50-an. Dulu dia punya salon rambut di Irak. Teroris ISIS menyerangnya, menikamnya, merusak perutnya. Mereka kemudian membakar salonnya, rumah dan semua yang dia miliki. Bersama sebagian besar keluarganya dia harus bermigrasi ke Yordania untuk mencari suaka. Mereka mengajukan permohonan pemukiman kembali di Australia tetapi ditolak empat kali. Situasinya bahkan lebih tragis sekarang. Anak bungsunya menderita sakit mata sehingga secara bertahap tidak bisa melihat. Setiap 6 bulan, mereka harus memperbarui perawatan untuk mendapatkan kacamata baru. Anak perempuannya yang tertua meninggal baru-baru ini di Irak. Putri remajanya itu adalah siswa yang sangat unggul di Irak, namun tidak dapat bersekolah selama empat tahun terakhir ini karena tidak memiliki dokumen yang sesuai untuk masuk sekolah di Yordania. Akibatnya, dia menderita depresi berat. Sekitar 50.000 orang Asyur yang harus meninggalkan Irak dan menjadi pengungsi di Yordania, Turki, dan di tempat lain punya kisah menyakitkan yang serupa.”

Taimoorazy karena itu mengajukan permohonan untuk membantu para warga Kristen korban ISIS: “Kami diberitahu bahwa ISIS sudah dikalahkan secara militer. Tetapi apakah kita akan biarkan para korban ISIS sendirian? Situasi pasca-genosida ISIS di Irak jauh lebih penting untuk diperhatikan oleh dunia. Para korban masih menderita.

“Setiap hari kekejaman masa lalu … tersaji di depan mata kita. Akibat situasi tempat pengungsi berada, umat Kristen korban ISIS masih belum dibebaskan. Misalnya, setidaknya tiga anak dari satu keluarga bakal buta karena orangtua mereka tidak dapat menyediakan uang untuk perawatan mereka. Harapan mereka semakin menipis. Tetapi kita punya jauh lebih banyak kekuatan daripada yang kita akui. Anda dapat menghubungi Kantor UNHCR setempat di negara Anda meminta jawaban mengapa warga Kristen Irak menunggu pemukiman kembali bertahun-tahun? Juga menanyakan mengapa Barat terus menolak mereka? LSM dan gereja-gereja Barat juga bisa memiliki perwakilan lokal di Yordania. Setiap individu dapat membuat perbedaan. Luka-luka para korban ISIS masih berdarah. Mari, jangan kita berpangku tangan. ”

Uzay Bulut adalah wartawan Muslim Turki. Selain untuk media Turki, dia juga menulis di berbagai media dunia.

[Artikel ini diterjemahkan oleh Jacobus E. Lato dari naskah aslinya berjudul The Latest UN Horror Show: Christian Refugees Ignored yang dipublikasi di Gatestone Institute]