“Tuhan Yesus, Pak Jokowi Tolong Kami,” Teriak Ibu-ibu yang Dibubarkan Saat Sedang Ibadah

Jemaat yang dibubarkan paksa saat sedang beribadah sedang meminta petugas Satpol PP membiarkan mereka meneruskan ibadah. (Foto: Ist)

Katoliknews.comSebuah video di mana jemaat Protestan dibubarkan paksa saat sedang beribadah kini beredar luas di media sosial.

Dalam video itu, ibu-ibu jemaat berteriak histeris, meminta agar anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan polisi membolehkan mereka melanjutkan ibadah.

Pol PP itu datang ketika pendeta tampak hendak menyampaikan kotbah. Ia tiba-tiba dihentikan dan dilarang melanjutkan ibadahnya, karena dianggap melanggar aturan.

Melihat hal itu, sebagaimana tampak dalam video, sejumlah jemaat, terutama ibu-ibu bangkit dari tempat duduk dan berusaha menghalau Pol PP dan polisi.

“Tolong kami pak, kami lagi beribadah. Tuhan Yesus tolong,” ujar seorang ibu histeris, sambil berusaha mencium kaki anggota Pol PP.

“Pak Jokowi, tolong kami,” ujarnya lagi.

Ibu lain menimpali, “Kami hanya beribadah Pak.”

Video sudah terkonfirmasi merupakan kejadian pada Minggu, 25 Agustus 2019 di Gereja Pentekosta di Indonesia (GPdI) Efata di Dusun Sari Agung, Desa Petalongan, Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

Video itu kini beredar luas dan sudah diunggah di Youtube oleh akun Efrem Gaho.

Silahkan saksikan videonya berikut ini:

Informasi yang dihimpun Katoliknews.com, aksi Satpol PP itu untuk menindaklanjuti surat yang dikeluarkan oleh Pemerintahan Kabupaten Indragiri Hilir Nomor No. 800/BKBP-KIB/VIII/2019/76150 yang berisi perintah penghentian penggunaan rumah tempat tinggal sebagai  tempat ibadah.

Surat itu, yang muncul sebagai tindak lanjut dari penolakan warga setempat ditandatangi oleh Wakil Bupati Indragiri Hilir, H. Syamsuddin Uti tanggal 7 Agustus  2019.

Sejak 2014, jemaat setempat memang menggunakan rumah pemimpin mereka, Pdt. Damianus Sinaga sebagai tempat ibadah.

Pada 8 Agustus Satpol PP sudah menyegel rumah kediaman Pdt. Damianus Sinaga, yang berlokasi di RT 01 Dusun Sari Agung Desa Petalongan, Kecamatan Keritang.

Spanduk yang dipasang di depan rumah Pdt Damianus Sinaga. (Foto: Ist)

Dalam sebuah spanduk yang dipasang di depan rumah, disebutkan bahwa, telah terjadi pelanggaran terhadap tiga hal, yakni, Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 8 dan No. 9 Tahun 2006 BAB IV tentang Pendirian Rumah Ibadah; Keputusan Bersama Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir dengan Forum Kominikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Forum Kerukunan Umat Beragama tanggal 6 Agustus 2019; serta  Surat Bupati Indragiri Hilir Nomor 800/BKBP/-KIB/VIII/2019/761.50.

Menurut laporan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pekanbaru, polemik ini muncul sejak awal tahun ini.

BACA: “Arogansi Satpol PP Bubarkan Ibadah Melukai Hati”

Pdt Damianus dilaporkan beberapa kali dipanggil pemerintah setempat dan diminta untuk memindahkan lokasi ibadah ke tempat lain yang jaraknya 15 km dari lokasi saat ini. Namun, ia keberatan.

BACA: Hal yang Penting Diketahui Terkait Kasus Pembubaran Ibadah di Riau

Beberapa kali pertemuan mediasi tidak mencapai titik temu.