Jazuli Juwaini: Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan saudara-saudara kami dari kaum pemeluk agama atau kelompok manapun, karena kami cinta Papua, cinta warga Papua, dan cinta kedamaian di Papua. (Foto: Ist)

Katoliknews.comJazuli Juwaini, anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyampaikan permohonan maaf terkait pernyataannnya tentang misionaris di Papua yang telah menimbulkan reaksi keras dari elemen masyarakat di daerah ujung timur tersebut.

Ia menyebut, pernyataannya “tidak bermaksud menyinggung perasaan saudara-saudara kami dari kaum pemeluk agama atau kelompok manapun, karena kami cinta Papua, cinta warga Papua, dan cinta kedamaian di Papua.”

Sebelumnya, dalam Rapat Kerja Komisi I DPR RI dengan Menteri Pertahanan (Menjan), Prabowo Subianto pada Senin, 11 November, Jazuli meminta agar lebih memperhatikan keberadaan misionaris atau pemuka agama di Papua.

Dia mengaku khawatir para pemuka agama ini justru melakukan misi selain menyebarkan agama.  “Maaf Pak Menhan, kita tidak ingin singgung sesuatu (yang) sensitif di Papua, itu banyak juga pesawat yang angkut misionaris, pihak (pengamanan) Papua kesulitan cek ini,” katanya.

“Kita khawatir ada orang atas nama misionaris tapi simpan agenda lain di Papua itu yang jadi biang kerok, bisa jadi, kita tidak boleh tuduh, tapi harus diperiksa,” tambahnya.

BACA: Anggota DPR Fraksi PKS Minta Menhan Awasi Misionaris di Papua

Menyusul adanya reaksi keras dari warga di Papua, dalam pernyataannya pada Kamis, 14 November, Jazuli menyatakan,  yang dia maksudkan adalah agar seluruh pesawat yang masuk ke Papua diperlakukan sama, “dalam hal ini check and clearance. termasuk yang mengatasnamakan membawa misionaris.”

“Misionaris di sini tidak dimaksudkan untuk misi agama tertentu, melainkan misi, kepentingan dan agama apapun,” katanya.

“Hal ini dimaksudkan agar tidak disalahgunakan oleh oknum-oknum yang berniat membuat kegaduhan di Papua,” tambahnya.

Ia mengklaim, ada beberapa media yang mengutip pernyataannya dengan judul yang tidak sesuai dengan yang dia maksud, “bahkan cenderung provokatif,” meski tidak membantah substansi dari apa yang telah dikutip sejumlah media.

“Apabila ada yang salah paham terhadap judul pernyataan saya di media tersebut, yang tidak sesuai dengan maksud saya yang sebenarnya, saya mohon maaf,” katanya.

Ia pun menyebut, selama ini Fraksi PKS terus berjuang untuk keutuhan NKRI dan untuk seluruh rakyat Indonesia dengan beragam suku dan agama sesuai prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Reaksi Warga Papua

Respon teras terhadap pernyataan Jazuli sebelumnya disampaikan berbagai elemen masyarakat di Papua.

Romo Izaak Bame Pr, Ketua Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Manokwari-Sorong mengatakan, menyayangkan pernyataan Jazuli

“yang tidak paham kehadiran misionaris di Tanah Papua.

Ia pun meminta Jazuli membuktikan tudingannya bahwa para misionaris memiliki agenda lain.

Ia juge mengingatkan bahwa sejak keputusan Menteri Agama 1978 tidak ada lagi misionaris asing yang datang di Papua, kecuali mereka yang datang sebelum adanya peraturan itu.

Herbert Amhosyo, tokoh pemuda Papua menyebut pernyataan Jazuli“kerdil dan mewakili cara pandang orang Jakarta terhadap Papua.”

Menurutnya, orang-orang seperti Jazuli minim referensi dan pengetahuan tentang Papua.

“Anggota DPR RI sebelum menyinggung soal Papua harusnya mempunyai referensi yang cukup mulai dari peradaban orang Papua. Orang Papua tidak bisa dilepaskan dari peran misionaris,  orang Papua berkontak dengan (dunia) luar karena keberadaan misionaris,” katanya, seperti dilansir Jubi.co.id.

Amohosyo mengatakan, pemerintah harus ingat bahwa daerah terpencil di Papua dibuka oleh misionaris, sebelum pemerintah.

Senada dengan itu, Isak Bofra, Ketua Bidang Kaderisasi Pemuda katolik Cabang Tambrauw mengatakan, pernyataan Jazuli mengada-ada karena telah memberi citra negatif bagi jasa para misionaris.

Seperti dilansir Suarapapua.com, ia mengatakan, misionaris membuka peradaban baru bagi orang Papua di berbagai bidang, yakni pendidikan, kesehatan, pertukangan, ekonomi serta agama.