Oleh: Mathias Buluama

Banyak dari kita yang mungkin agak bingung saat membaca atau mendengar bacaan Kitab Suci terkait kata “Israel” dan “Yahudi”. Setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, Allah memilih bangsa Israel (keturunan Abraham – Ishak – Yakub) untuk menjalankan karya keselamatan-Nya, yakni melalui Yesus Kristus.

Akan tetapi, jika karya keselamatan itu datang dari bangsa Israel, kenapa Yesus lebih dikenal sebagai orang Yahudi? Apakah kata Israel dan Yahudi itu memiliki makna yang sama atau berbeda?

Dalam Kitab Suci terjemahan baru, terdapat 2.826 kata “Israel”, dengan perincian 2.744 di Perjanjian Lama (PL), termasuk kitab-kitab Deuterokanonika, berbanding 82 di Perjanjian Baru (PB). Sebaliknya, di dalam PB sendiri kita lebih sering menjumpai kata “Yahudi” dibanding “Israel” dengan perbandingan 246:82.

Sebelum membahas hal ini, mari kita lihat beberapa kutipan ayat Kitab Suci, khususnya PB, terkait penyebutan Israel dan Yahudi yang dikaitkan dengan Yesus sebagai raja. Yesus disebut sebagai Raja Israel pada Yoh 12:13 dalam konteks Yesus disambut sebagai raja saat memasuki kota Yerusalem.

Pada Mat 27:42 dan Mrk 15:32 Yesus juga disebut sebagai Raja Israel, kali ini dalam konteks ejekan, saat Yesus bergantung di Salib.  Natanael (Bartolomeus) menyebut Yesus sebagai Raja orang Israel pada Yoh 1:49 karena kekagumannya kepada Yesus yang sudah mengetahui keberadaannya saat masih jauh dari hadapan Yesus.

Tiga puluh tahun lebih sebelum disebut sebagai Raja Israel atau Raja orang Israel, Yesus sudah lebih dahulu disebut sebagai Raja orang Yahudi, yaitu saat dikunjungi orang-orang majus dari timur tidak lama setelah Yesus dilahirkan (Mat 2:2).

Setelah itu, penyebutan Raja orang Yahudi baru muncul lagi saat Yesus diadili dan ditanya oleh Pilatus apakah Dia raja orang Yahudi (Mat 27:11; Mrk 15:2; Luk 23:3; Yoh 18:33), dimana Yesus tidak menyangkal/menjawab pertanyaan Pilatus tersebut. Tidak menyangkalnya. Yesus inilah yang membuat Pilatus secara tegas memerintahkan pasukan Romawi untuk menulis “Yesus orang Nazareth, Raja orang Yahudi” dalam tiga bahasa: Latin (Iēsus Nazarēnus, Rēx Iūdaeōrum = INRI); Yunani (Ἰησοῦς ὁ Ναζωραῖος ὁ Bασιλεὺς τῶν Ἰουδαίων = INBI); dan Ibrani (ישוע הנצרי ומלך היהודים) pada Salib Yesus (Yoh 19:19), walaupun kata-kata ini kemudian dijadikan bahan ejekan kepada Yesus oleh orang-orang Yahudi (Mat 27:29; Mrk 15:18; Luk 23:37; Yoh 19:3).

Untuk memahami pergeseran kata Israel menjadi Yahudi, kiranya kita harus kembali ke Kitab Suci dan melihatnya dari aspek sejarah. Yakub yang disebut Israel (Kej 32:28) memperoleh 12 anak lelaki dari kedua isterinya (Lea dan Rahel) dan kedua budaknya (Bilha dan Zilpa).

Berdasarkan urutan kelahiran, Yakub memperoleh (1) Ruben, (2) Simeon, (3) Lewi, (4) Yehuda, (5) Ishakar dan (6) Zebulon dari isteri pertamanya, Lea. Dari Bilha (budak perempuan Rahel) Yakub memperoleh (7) Dan dan (8) Naftali. Dari Zilpa (budak perempuan Lea) Yakub memperoleh (9) Gad dan (10) Asyer. Dari Rahel (isteri kedua dan kesayangan Yakub) Yakub memperoleh (11) Yusuf dan (12) Benyamin. Dari 12 anak lelaki inilah keturunan Yakub berkembang menjadi sebuah bangsa yang disebut bangsa Israel atau bangsa keturunan Yakub. Bangsa inilah yang dipilih Allah untuk mendiami wilayah Kanaan, sebagaimana dijanjikan Allah kepada nenek moyang bangsa Israel, yaitu Abraham.

Setelah Yosua memimpin bangsa Israel untuk masuk dan menundukkan wilayah Kanaan (sekitar 1200-an SM), seluruh wilayah itu dibagi-bagi kepada 12 suku Israel. Suku/keturunan Lewi tidak mendapat bagian karena sejak awal sudah dipilih Allah untuk menjadi imam-imam dan tidak ikut berperang (Yos 13:33).. Sebagai gantinya, suku/keturunan Yusuf mendapat dua bagian melalui dua anaknya yaitu Manasye dan Efraim, yang oleh Yakub keduanya ‘diangkat’ sebagai anaknya sendiri (Kej 48:5).

Setelah melewati masa kepemimpiman oleh hakim-hakim, akhirnya rakyat Israel menginginkan adanya seorang raja yang memimpin seluruh 12 suku Israel. Sekitar 1020 SM Saul dari suku Benyamin ditetapkan menjadi raja Israel (1 Sam 10:17-27).

Setelah Saul meninggal, Daud dari suku Yehuda ditetapkan menjadi raja (sekitar 1000-970 SM). Pada masa Raja Daud ini lah Israel mencapai puncak kejayaannya. Raja-raja Israel berikutnya adalah Salomo (sekitar 970-930 SM) yang merupakan anak Daud dari Batsyeba, dan kemudian Rahabeam (930-915 SM) yang merupakan anak Salomo dan cucu Daud (1 Raj 11:43).

Tidak lama setelah Rahabeam diangkat sebagai raja, terjadilah perpecahan di Israel. Semua suku Israel selain suku Yehuda, Benyamin, dan Simeon memberontak di bawah pimpinan suku Efraim yang menginginkan raja dari keturunan mereka. Hal ini tentunya melanggar wasiat Yakub yang telah mewasiatkan keturunan Yehuda sebagai raja (Kej 49:10).

Akhirnya, 10 suku Israel (termasuk suku Lewi) yang mendiami wilayah utara Israel (Samaria, Galilea, Sekhem) mengangkat raja sendiri dari suku Efraim, yaitu Yerobeam. Nama kerajaannya tetap Kerajaan Israel atau biasa disebut Kerajaan Utara dengan ibukota Samaria. Sementara itu suku-suku Yehuda, Simeon (yang akhirnya menyatu dengan suku Yehuda) dan Benyamin tetap setia terhadap raja Rahabeam dengan cakupan wilayah selatan. Nama kerajaannya kembali ke nama saat pertama kali dipimpin Daud sebelum menjadi raja Kerajaan Israel Raya, yaitu Kerajaan Yehuda atau Kerajaan Selatan, dengan ibukota tetap di Yerusalem.

Akibat ketidak-setiaan kepada Allah, sekitar dua abad kemudian (722 SM) Kerajaan Israel (Utara) di bawah pimpinan Raja Hosea ditaklukkan oleh Kerajaan Asyur atau Assyria (2 Raj 17:6). Bangsa Asyur memporak-porandakan dan mengusir kesepuluh suku Israel dari tanah leluhurnya. Raja Asyur kemudian mengangkut orang dari Babel, Kuta, Awa, Hamat, dan Sefarwaim, lalu menyuruh mereka diam di kota-kota Samaria menggantikan orang Israel… (2 Raj 17:24).

Pengusiran 10 suku Israel dari tanah leluhurnya inilah yang menjadi cikal bakal hilangnya 10 suku Israel (The Ten Lost Tribes). Hal ini pula yang menjadi penyebab kenapa dalam Kitab PB orang Yahudi memberi stigma negatif kepada orang Samaria (Kerajaan Utara), yaitu karena setelah penaklukan oleh Kerajaan Asyur, orang-orang di Kerajaan Utara bukan lagi asli keturunan Israel, melainkan dari wilayah (saat ini) Syria, Irak, Kurdi, dan mereka tidak mengenal Allah.

Dengan hancurnya Kerajaan Israel (Kerajaan Utara) dan diusirnya 10 suku Israel dari wilayah Kanaan, maka praktis sejak saat itu tidak ada lagi kerajaan maupun bangsa Israel. Yang ada tinggalah bangsa keturunan Yehuda + Simeon dan Benyamin di Kerajaan Yehuda. Bangsa dari Kerajaan Yehuda (Ibrani: Yehudi, Arab: Al-Yahud) inilah yang akhirnya dikenal sebagai bangsa/orang Yahudi sampai saat ini.

Akibat ketidaksetiaan kepada Allah juga, bangsa Yahudi pun akhirnya dihukum Allah yakni dibuang ke Babel (saat ini Irak) pada 586 SM dan menjalani perbudakan di sana setelah Kerajaan Yehuda ditundukkan Kerajaan Babilonia dengan rajanya Nebukadnezar II. Tidak seperti 10 suku Israel lain yang kocar kacir kemana-mana setelah ditundukan Kerajaan Asyur, suku Yehuda/Yahudi tetap bersatu selama pembuangan di Babel.

Setelah Kerajaan Babilonia ditundukkan Kerajaan Persia (saat ini Iran) pada 538 SM, raja Persia, Koresh (Cyrus), mengizinkan bangsa Yahudi untuk kembali ke tanah leluhurnya di wilayah Yehuda (2 Taw 36:22-23).

Sekitar 330 SM wilayah Yehuda beralih kekuasaan lagi dari Kerajaan Persia ke Kerajaan Makedonia (Yunani) dengan rajanya Aleksander Agung (Alexander the Great). Aleksander menjalankan program Helenisasi, yaitu mewajibkan seluruh wilayah taklukannya menerapkan budaya (termasuk bahasa) Yunani. Penyebutan wilayah bekas Kerajaan Yehuda kemudian berubah menjadi Yudea (Yunani: Ioudaia).

Setelah sempat mengalami hak otonomi dan kemerdekaan sebentar (142-63 SM), wilayah Yehuda kemudian kembali berada di bawah kekuasaan asing, yaitu Kekaisaran Romawi (63 SM). Pada masa Kekaisaran Romawi ini lah Yesus dilahirkan.

Berbeda dengan Kerajaan Yunani, Kekaisaran Romawi tidak memaksakan penggunaan bahasa Latin sebagai bahasa sehari-hari, sehingga bangsa Yahudi saat itu menggunakan bahasa Yunani dalam berkomunikasi dengan bangsa lainnya selain bahasa Ibrani. Itu sebabnya Kitab PB aslinya tidak ditulis dalam bahasa Latin atau Ibrani tetapi dalam bahasa Yunani pasaran (Koine Greek).

Dengan memahami sejarah singkat di atas, kiranya kita bisa menjawab dengan tegas pertanyaan “Yesus Raja (orang) Yahudi atau Israel?”  Yesus adalah orang Yahudi karena Dia berasal dari suku Yehuda (Mat 1:1-17), dan dilahirkan di Bethlehem di wilayah Yehuda/Yudea. Yesus adalah orang Israel, karena Yoseph dan Maria berasal dari keturunan Israel (Yakub) dari suku Yehuda yang masih ada pada zaman Yesus.

Selain pemahaman tentang Yahudi dan Israel, kita juga bisa lebih memahami makna atau konteks penyebutan wilayah/orang Samaria, Galilea, dan Yudea dalam Kitab PB. Kita pun jadi bisa perjalanan karya keselamatan Allah sejak memanggil Abraham dari Ur di wilayah Mesopotamia/Irak untuk mendiami wilayaah Kanaan, sampai dengan kebangkitan Yesus Kristus maupun penyebaran Injil oleh para murid Yesus.

Sampai sampai saat ini keturunan Yehuda masih eksis, dan sejak 1948 membentuk negara bernama Israel di sebagian wilayah yang dulu menjadi wilayah Kerajaan Israel Raya pada masa raja Daud dan Salomo. Walaupun nama negara tersebut adalah Israel, namun bangsa, budaya, dan agama dari sebagian besar penduduknya disebut sebagai bangsa, budaya, dan agama Yahudi.


Penulis adalah umat Paroki Taman Galaxy St Bartolomeus, Bekasi

Rujukan: