Dedi Mulyadi dan Nostalgianya Tentang Seorang Guru Katolik

Dedi Mulyadi bersama Ibu Uden, isteri dari gurunya saat SD, Martinus Udensius Natet alias Pak Uden. (Foto: Instagram Dedi Mulyadi)

Katoliknews.com – Bernostalgia dengan masa lalu, Dedi Mulyadi, anggota DPR RI dari Partai Golkar beberapa waktu lalu mengunjungi sebuah keluarga Katolik di Subang, Jawa Barat.

Kunjungan tersebut untuk memberikan ucapan Selamat Natal kepada keluarga dari mendiang Martinus Udensius Natet alias Pak Uden, guru Dedi saat belajar di SD Subakti, Subang pada tahun 70-an.

Kabar ini diketahui dari postingan video Dedi di akun Instagramnya @Dedimulyadi71 yang diunggah pada 24 Desember 2019.

Di bagian awal video berdurasi 3 menit 5 detik tersebut, Dedi terlihat disambut dengan pelukan hangat oleh Ibu Uden, sapaan bagi istri dari gurunya itu.

Dedi mengaku sangat mengenal ibu tersebut karena dahulu sering diajak Pak Uden ke acara-acara sekolah.


“Puluhan tahun tak bertemu, akhirnya saya bisa sowan ke rumah Ibu Uden untuk mengucapkan Selamat Natal,” tulis Dedi dalam keterangan video tersebut.

Dedi kemudian menceritakan sosok Pak Uden yang menurutnya memiliki pengaruh bagi sejumlah warga di Subang saat itu.

Meski dikenal galak, kata dia, Pak Uden yang merupakan guru asal Flores tersebut adalah salah satu contoh orang Katolik yang taat dan berwibawa di Subang.

“Saya pernah ditampar olehnya dua kali. Pertama, saat berteriak di depan sekolah selesai upacara bendera, saya menendang-nendang debu di lapangan sekolah,” kenangnya.

“Tamparan kedua saat Pak Uden mengajar di kelas, saya malah berlari-lari di atap sekolah sambil bermain bersama teman-teman. Hal itu sangat mengganggu konsentrasi mengajar beliau,” ceritanya.

Dedi juga mengaku tidak bisa membayangkan jika ketegasan Pak Uden yang adalah minoritas di Subang diterapkan saat ini.

“Andaikan Pak Uden mengajar para murid hari ini yang agamanya berbeda dan menampar salah satu dari mereka, entah apa yang akan terjadi?” katanya.

Meski begitu, karena ketegasannya saat itu, Pak Uden tetap dicintai di desanya. Padahal saat itu, warga sama sekali belum mengenal kata toleransi.

“Padahal agama beliau berbeda dengan seluruh warga dan anak-anak desa kami,” kata Dedi.

Dedi menegaskan, “kebaikan beliaulah yang membuat kami sangat mencintainya.”

“Saat ada warga yang meninggal, beliau selalu turut melayat ke rumah duka sampai mengantarkan jenazah ke pemakaman,” kenangnya.

Selain itu, jika ada warga yang menggelar acara selametan, Pak Uden selalu menjadi orang pertama yang hadir.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Kang Dedi Mulyadi (@dedimulyadi71) pada

Pak Uden meninggal tahun 2008 tepat setelah dirinya pensiun.

Pak Uden dianugerahi empat orang anak. Salah satu dari mereka kini menjadi imam, yakni Pastor Yosep Sirilus Natet yang saat ini bertugas di Gereja Kota Wisata Cibubur.

Menurut Dedi, dahulu Pastor Sirilus sering diajak Pak Uden mengkuti acara keagamaan umat Muslim di Subang

“Ternyata putera beliau yang sering diajak ke sekolah saat Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Isra’ Mi’raj, kini menjadi romo,” katanya.

Di akhir video tersebut, duduk di samping Ibu Uden, Dedi mengucapkan selamat Natal kepada keluarga tersebut serta umat Kristiani di Indonesia dan di seluruh dunia.

“Selamat Hari Natal, damai di bumi, damai di langit, damai di hati,” katanya.

Dedi Mulyadi yang lahir di Sukasari, Subang pada 11 April 1971 saat ini menjadi Wakil Ketua Komisi

Sebelum pada Pilkada Jawa Barat tahun 2018 ia pernah ikut bertarung merebut kursi wakil gubernur, berpasangan dengan Deddy Mizwar.

Dedi adalah juga mantan Bupati Purwakarta selama dua periode (2008-2018).

Sebelum jadi bupati, Dedi Mulyadi menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Purwakarta dan menjadi Wakil Bupati Purwakarta pada periode (2003-2008).