Romo Magnis Dukung Pengungkapan Kasus Pelecehan Seksual dalam Gereja 

Romo Franz Magnis-Suseno SJ menyatakan, memang tidak semua masalah dalam Gereja perlu dibicarakan secara terbuka, namun “apabila suatu kejahatan menjadi borok yang bisa membusukkan seluruh komunitas gerejani, kejahatan tersebut harus dibuka.” (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Romo Franz Magnis-Suseno SJ, Guru Besar Emeritus di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta menyatakan sikapnya mendukung upaya pengungkapan kasus-kasus pelecehan seksual dalam Gereja Katolik, di mana ia menyebut tindakan pelecehan yang telah memicu krisis di banyak tempat sebagai “perbuatan kriminal yang harus dihentikan.”

Pendapat demikian ia sampaikan dalam sebuah artikel opini yang dimuat Majalah Mingguan HIDUP edisi 2 Februari 2020.

Tulisan itu ia sebut menanggapi pertanyaan seorang pembaca majalah milik Keuskupan Agung Jakarta itu, terkait apakah bijaksana jika aib Gereja dibuka ke publik, seperti halnya dalam kasus pelecehan seksual.

Magnis menyatakan, memang tidak semua masalah dalam Gereja perlu dibicarakan secara terbuka, namun “apabila suatu kejahatan menjadi borok yang bisa membusukkan seluruh komunitas gerejani, kejahatan tersebut harus dibuka.”

Pelecehan dalam Gereja Katolik Indonesia

Tulisan Magnis itu muncul hanya dua bulan pasca Gereja Katolik Indonesia dihebohkan dengan laporan sebuah media paroki di Jakarta, yang melansir data kasus pelecehan seksual di dalam Gereja Katolik Indonesia.

Laporan dalam Majalah Warta Minggu milik Paroki Tomang – Gereja Maria Bunda Karmel (MBK) itu yang diterbitkan pada edisi Minggu, 7 Desember 2019 mengutip pernyataan Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari KWI, RD Joseph Kristanto yang menyatakan, walaupun tidak memiliki data pasti tentang jumlah korban pelecehan seksual di Gereja Katolik di Indonesia, timnya telah menerima laporan dari informan yang merinci setidaknya 56 korban.

BACA: Laporan: Ada 56 Orang Korban Pelecehan Seksual di Gereja Katolik Indonesia, Termasuk Seminaris dan Suster

“Dari jumlah itu, ada 21 korban dari kalangan seminaris dan frater, 20 orang suster dan 15 korban nonreligius,” kata RD Kristanto.

“Pelakunya siapa? Ada 33 imam dan 23 pelaku bukan imam. Ternyata banyak juga kejadian di tempat-tempat pendidikan calon imam.”

Ketua KWI, Ignatius Kardinal Suharyo telah menanggapi pemberitaan terkait hal itu ketika ditanya wartawan dalam konferensi pers Hari Natal, Rabu, 25 Desember 2019. Ia menyatakan “tidak pernah menerima laporan seperti itu.”

Sambil mengingatkan sikap Paus Fransiskus yang begitu tegas terhadap persoalan pelecehan seksual, ia menyatakan, cara Gereja menindak kasus-kasus semacam juga memandang konteks dan tidak dapat disamakan di tiap negara.

“Jadi saya hanya mau mengatakan, kita mesti hati-hati benar dengan perkara-perkara seperti itu. Karena apa, karena ini masalah yang menyangkut pribadi orang. Kalau dijadikan bahan jual beli, maksud saya dijadikan bahan yang secara sekedar jadi berita yang nanti tidak dipertanggungjawabkan secara moral itu jadi susah bukan main,” katanya.

Drama pengungkapan kasus pelecehan seksual ramai selama 20 tahun terakhir, setidaknya di dunia Barat dan selama satu dekade terakhir, upaya pengungkapan kasus-kasus ini juga sampai ke Gereja Katolik di Asia.

Di India, sebagaimana juga disinggung Magnis dalam tulisannya, Gereja Katolik dihebohkan dengan pengakuan seorang suster yang mengklaim diperkosa oleh seorang uskup.

Uskup Franco Mulakkal itu yang sempat ditahan polisi namun kemudian bebas bersyarat, sudah  dinonaktifkan oleh Tahta Suci.

Di Timor Leste pada tahun lalu, sebuah kasus yang melibatkan misionaris asal Amerika Serikat, Richard Daschbach – yang kemudian keluar dari Serikat Sabda Allah (SVD) – mencuat, di mana dia dilaporkan bertahun-tahun melecehkan gadis-gadis di Panti Asuhan Topu Honis yang ia dirikan.

Belum semua pimpinan Gereja mengambil upaya berbicara secara terbuka menyikapi kasus-kasus yang muncul, namun dalam beberapa tahun terakhir sudah mulai ada juga yang memilih serius menyikapi krisis ini, sebelum mendapat perhatian luas dari media massa, seperti di dunia Barat.

Bulan lalu, Konferensi Para Uskup Filipina misalnya menyatakan membentuk sebuah biro khusus yang dipimpin seorang uskup untuk menangani kasus-kasus pelecehan seksual.

BACA: Para Uskup Filipina Akan Bentuk Biro Khusus untuk Tangani Pelecehan Seksual dalam Gereja

Pada April tahun lalu, di hadapan 15 ribu kaum muda saat perayaan Hari Kaum Muda Nasional, Ketua Konferensi Waligereja Filipina, Uskup Agung Davao Romulo Valles menyatakan meminta pengampunan atas kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh anggota klerus, terutama terhadap anak-anak.

“Kami bersujud dalam rasa malu, kami memohon pengampunan,” katanya.

Tidak Bisa Lagi dengan Cara Lama

Magnis dalam tulisannya menyatakan, pelecehan seksual adalah masalah yang telah lama yang terjadi dalam Gereja.

Dahulu, kata dia, sering terjadi bahwa “korban dibayar untuk tutup mulut agar institusi gereja tidak tercemar.”

“Ada aparat gereja, imam, rohaniwan bahkan juga rohaniwati melakukan pelecehan seksual terhadap orang-orang yang dipercayakan kepada mereka seperti anak-anak, remaja dan terhadap orang-orang yang bergantung seperti suster atau calon imam di seminari,” katanya dalam tulisannya.

Padahal, pelecehan khususnya bagi orang di bawah umur meninggalkan trauma psikologis yang mendalam.

“Mereka sering tak bisa mengembangkan seksualitas yang normal, sering malu dan tidak percaya diri, hingga puluhan tahun kemudian mereka baru berani untuk membuka masa lalu yang kelam itu baik kepada teman maupun kepada polisi,” katanya.

Magnis menyatakan, pimpinan Gereja Katolik, setidaknya Paus Benediktus XVI dan Paus Fransiskus telah mengambil langkah tegas menyikapi skandal ini.

Ia menyinggung bagaimana Paus Benediktus XVI menindak pendiri Legionaris of Christ yang ternyata memperkosa beberapa anggota muda komunitasnya sendiri dan secara rahasia mempunyai dua istri dan beberapa anak.

Sementara itu, Paus Fransiskus menindak dua kardinal yang sekarang dipenjara (meski dua-duanya naik banding dan mengaku tidak bersalah), dan ada kardinal lain yang dua tahun lalu diberhentikan dari imamatnya,” tulis Magnis.

BACA: Uskup di Filipina: Jika Ada yang Alami Pelecehan Seksual oleh Kaum Klerus, Jangan Diam

Ia melanjutkan, dua tahun lalu, Paus Fransiskus juga mengumpulkan semua uskup dari Chili di Vatikan dan meminta agar mereka semua menawarkan pengunduran diri karena dituduh menutupi pelecehan dalam Keuskupan mereka dan enam uskup lalu diberhentikan.

“Bulan Desember lalu Paus Fransiskus menerima pengunduran diri Duta Vatikan di Prancis yang dituduh melakukan pelecehan pada suatu resepsi,” tulis Magnis.

Menurutnya, ketegasan ini merupakan suatu segi baru yang dibuka sendiri oleh Paus Fransiskus.

“Dalam konferensi di sebuah penerbangannya tahun lalu, Paus mengakui bahwa ada suster yang diperbudak secara seksual oleh kaum tertahbis,” tulisnya, sambil menambahkan bahwa sejak kasus-kasus ini dibuka, pelecehan terhadap suster mulai diperhatikan.

“Dengan motu proprio berjudul Vos Etis Lux Mundi pada bulan Mei tahun lalu, Paus menetapkan bahwa segenap pelecehan harus ditindak tegas. Paus juga menetapkan bahwa pelecehan seksual bersifat kriminal, dan alat negara harus dilibatkan,” tulisnya.

Lantas ia mengajurkan semua pihak mengikuti petunjuk Paus Fransikus untuk berani membuka aib itu.

“Pelecehan anak, pemuda maupun suster dalam gereja oleh para tertahbis tidak boleh ditutup lagi,” tulis Magnis.

Romo Magnis menegaskan “para korban tidak hanya berhak mendapat ganti rugi, melainkan juga penyembuhan keterlukaan jiwa, minimal mendapat pengakuan bahwa mereka menjadi korban.”

Namun, imam yang juga dikenal sebagai budayawan itu memberi catatan bahwa penting juga diperhatikan, merujuk pada statistik, imam yang terlibat hanya sembilan persen.

“Ini berarti bahwa 91 persen tidak terlibat, jadi tidak perlu segenap tertahbis dicurigai,” katanya.

Ia mengakhiri tulisannya dengan mengatakan, mengingat bahwa “Gereja memang terdiri atas pendosa, dimana yang tertahbis pun termasuk” upaya membuka kasus-kasus pelecehan seksual adalah juga “merupakan rahmat yang ditawarkan Tuhan.”