Virus Corona Menyebar Cepat, Keuskupan Agung di Korea Tangguhkan Misa dan Liturgi Rabu Abu

Seorang umat Katolik di Keuskupan Agung Daegu, Korea Selatan membaca arahan penangguhan Misa yang ditempatkan di depan Gereja Paroki Nasam pada 20 Februari. (Foto: Catholic Times)

Katoliknews.com – Menyusul adanya laporan bahwa virus korona (Covid-19) menyebar lewat pertemuan-pertemuan keagamaan, sebuah Keuskupan Agung di Korea Selatan telah menangguhkan semua Misa selama tiga minggu dan secara efektif membatalkan liturgi Rabu Abu – satu minggu setelah Keuskupan Hong Kong mengambil keputusan yang sama.

Uskup Agung Daegu, Mgr Thaddeus Cho Hwan-kil dalam arahannya pada 19 Februari melarang semua acara gereja yang melibatkan orang banyak, termasuk Misa, selama tiga pekan ke depan, hingga 5 Maret, demikian laporan Ucanews.com, media Katolik Asia, Jumat, 21 Februari 2020.

Arahan ini berlaku untuk semua paroki dan rumah-rumah keagamaan di bawah yurisdiksinya.

Keputusan itu muncul setelah kasus infeksi baru dilaporkan dari sebuah acara umat Kristiani di wilayah keuskupannya.

Pada 19 Februari, Korea Selatan melaporkan kematian pertamanya akibat wabah virus korona.


Di negara itu, terdapat 82 infeksi menurut data pada 19 Februari, di mana 51 adalah kasus terbaru yang dilaporkan dalam dua hari terakhir.

Dari 51 itu, setidaknya 37 kasus dilaporkan dari daerah Daegu dan pada orang yang menghadiri program doa sebuah sekte Kristen yang populer bernama Shincheonji, demikian menurut laporan media.

Para ahli menghubungkan infeksi baru dengan anggota sekte, yang diidentifikasi hanya sebagai pasien ke-31.

Wanita berusia 61 tahun itu, yang dites positif awal pekan ini, dilaporkan menghadiri program doa sebelum dan sesudah ia terinfeksi virus.

Pengumaman mendadak dari keuskupan agung itu meminta semua imam untuk menghentikan Misa di depan umum dan mendesak umat Katolik untuk berdoa di rumah-rumah dan melakukan kegiatan rohani, termasuk membaca Kitab Suci.

Pada Rabu Abu, yang jatuh tahun ini pada 26 Februari, umat Katolik harus berpuasa dan tidak makan daging, meskipun mereka tidak mengikuti acara liturgi pada hari itu.

Hari itu menandai awal Prapaskah, doa selama tujuh minggu, puasa dan pantang bagi umat Katolik dalam persiapan untuk Hari Raya Paskah yang memperingati kebangkitan Kristus.

Langkah keuskupan agung Korea diambil satu minggu setelah Keuskupan Hong Kong menghentikan semua program gereja selama dua minggu. Itu berarti termasuk membatalkan liturgi Rabu Abu.

Administrator Apostolik Keuskupan Hong Kong, Kardinal John Tong, mengatakan, keputusan yang tentu “mengecewakan” itu diambil karena dua minggu ke depan “akan menjadi krusial” untuk meredakan epidemi virus korona.

Setelah berminggu-minggu berada dalam kepanikan, kini wabah ini dilaporkan mulai membaik di China,  di mana coronavirus baru pertama kali dilaporkan pada bulan Desember.

Jumlah kasus telah mereda di Provinsi Hubei, dianggap sebagai pusat virus.

Pada 19 Februari, provinsi tersebut melaporkan hanya 349 kasus baru, menurun di dari dari 1.600 yang dilaporkan pada hari sebelumnya, demikian menurut kantor berita resmi Xinhua.

Di seluruh dunia, 2.247 orang telah meninggal karena virus dari lebih dari 76.000 kasus yang dikonfirmasi, dengan sebagian besar dilaporkan di daratan Cina.