Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC. (Foto: Ist)

Katoliknews.comMgr. Petrus Canisius Mandagi MSC, Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke (KAM) dalam Surat Gembala Praspakah tahun ini mengangkat tema soal pembangunan ekonomi, yang ia sebut haruslah bermartabat.

Tema itu, kata dia, sejalan dengan tema Aksi Puasa Pembangunan dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Dalam suratnya itu yang dibacakan di seluruh KAM pada Minggu, 23 Februari 2020, ia mengatakan, benar bahwa kita orang Kristen harus membangun kehidupan ekonomi demi ketersediaan sandang, pangan, papan yang cukup, yang dibutuhkan bagi kehidupan kita di dunia ini secara layak.

“Namun pembangunan ekonomi itu harus merupakan pembangunan yang bermartabat. Artinya, pembangunan ekonomi itu harus diwarnai dengan solidaritas, keadilan, kejujuran, dan terlebih lagi harus dicirikhaskan oleh dan dengan cinta kepada Allah dan kepada sesama,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh menyebabkan kehancuran iman, pengharapan dan kasih kepada Tuhan.

“Bukanlah bahwa seseorang semakin kaya, tetapi ia semakin jauh dari Tuhan, tidak memperhatikan lagi doa, sakramen-sakramen, adorasi dan devosi; ia semakin merasa tak lagi membutuhkan Tuhan; Ia semakin ragu-ragu tentang kekuasaan Tuhan, yang menciptakan segala-galanya; ia semakin rakus, tamak dan kikir dalam memberi dan membantu sesama yang membutuhkan; dan ia semakin meremehkan Roh Tuhan yang terus melayang-layang dalam kehidupan manusia,” katanya.

Harusnya, kata dia, “semakin kita kaya, sekaligus kita semakin mencari Tuhan untuk bersyukur, memuji Dia.”

“Haruslah kita semakin kaya, dan sekaligus kita menjadi seperti Bunda Maria yang mengungkapkan doa syukurnya,” katanya sambil mengutip teks Magnificat dari Luk. 1 : 46 – 56.

Ia mengingatkan, pembangunan ekonomi tak boleh menyebabkan cinta kita pada sesama merosot.

“Artinya, pembangunan ekonomi tak boleh menyebabkan bahwa kekayaan kita semakin berlimpah, harta kita semakin banyak, tapi membuat sesama kita semakin miskin, semakin berkekurangan, dan semakin sengsara,” katanya.

Pembangunan ekonomi, kata dia, juga tak boleh menyebabkan bahwa semakin kentara di dunia ini, ada kemiskinan, ketidakadilan dan kerakusan.

“Lihatlah apa yang terjadi di dunia ini, demi kerakusan akan uang, hutan-hutan dihancurkan, dan kehancuran itu meyebabkan banjir, tanah longsor yang mematikan banyak manusia,” katanya.

“Demi kerakusan akan uang, laut dan sungai dikotori dengan limbah-limbah pabrik dan pengotoran itu menyebabkan ikan yang dibutuhkan demi kehidupan manusia menjadi semakin berkurang atau ikan, yang masih ada, tak bisa lagi disantap sebab telah terkontaminasi dengan racun mercuri.”

Ia mengingatkan bahwa kerakusan manusia akan uang dan harta atau akan kekayaan membuat bumi kita hancur dan semakin menderita.

“Ppabrik-pabrik ada untuk menghasilkan uang, tapi tidak jarang terjadi bahwa mereka menyebabkan polusi udara yang semakin kotor dan kekotoran itu menciptakan rupa-rupa penyakit bagi manusia,” katanya.

Sekali lagi harus dikatakan bahwa perlulah manusia membangun ekonomi demi supaya manusia mampu menjalankan kehidupannya di dunia ini secara layak.

“Pembangunan ekonomi yang dikemudikan oleh cinta pada Allah dan sesama atau pembangunan ekonomi yang bermartabat, baiklah bukan dilaksanakan oleh gereja sendiri, tetapi dalam kerja sama dengan pemerintah dan agama-agama lain baik yang non Kristen, maupun yang non Katolik,” katanya.

Ia menegaskan, garuslah gereja berjuang bersama agama-agama lain itu supaya aturan-aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk pembangunan ekonomi tidak mengorbankan kemanusiaan.

“Gereja dipanggil untuk menegakkan keadilan dan perdamaian di dunia ini, termasuk di bumi Papua Selatan yang kita cintai ini. Sungguh tragis, bila liturgi liturgi di gereja-gereja kita indah, namun manusia-manusia di sekitar gereja kita, khususnya mereka yang miskin, terpuruk dan hancur secara rohani dan jasmani,” katanya.

Ia memberi pesan khusus kepada kaum awam agar terlibat secara langsung di dunia politik dan ekonomi.

“Kaum Awam dipanggil secara khusus untuk membuat pembangunan ekonomi dunia ini diwarnai dengan nilai-nilai Injili, yakni cinta pada Allah dan sesama, keadilan, perdamaian dan kejujuran,” katanya.