‘Dear Paramedis,’ untuk Tenaga Medis yang Setia Bekerja di Tengah Pandemi Covid-19

"Percayalah Anda paramedis: saat ini tidak pantas kami berdoa kepada Tuhan tanpa menyebut nama Anda semua. Kami bangga memiliki Anda semua. Dunia tidak mau kehilangan Anda. Tuhan mencintai Anda." (Foto: Ist)

Pastor Andre Atawolo OFM, pengajar teologi dogmatik di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta menulis di blognya, Andreatawolo.id sebuah artikel menggugah yang ditujukan bagi paramedis.

Isi artikel tersebut adalah sebagai berikut. Silahkan mengunjungi blog imam Fransiskan tersebut – dengan klik di sini – untuk membaca artikel-artikelnya yang lain:

Dear paramedis: perawat, dokter, bidan, serta Anda semua good people, perempuan maupun laki-laki, tua maupun muda, senior maupun yunior, yang siang malam bekerja memeras keringat, melayani banyak orang di tempat yang bernama rumah sakit atau di tempat-tempat lain.

Menulis kata-kata ini saya ingin menyapa Anda semua. Rasanya dunia bersikap tak adil jika hari-hari ini tidak menyapa Anda secara khusus. Apa jadinya dunia saat ini tanpa profesi Anda? Kekacauan ini pasti bertambah rumit seandainya Anda menutup diri dari dunia yang murung, lalu memikirkan dirimu sendiri.

Pelayanan Anda adalah senandung suka bagi dunia saat ini. Teringat ketika mengunjungi kerabat atau keluarga yang sakit, saya memperhatikan dan merenungkan gerak langkah Anda. Profesi Anda adalah oase bagi semua yang haus dalam ziarah ini. Semua yang datang kepada Anda menyebut diri pasien: Mereka datang dengan sebuah kebutuhan, mereka sakit, apa pun sebabnya. Mereka butuh uluran tanganmu. Anda adalah garda depan dari semua orang yang datang dengan beragam keluhan, entah apa sakitnya, entah sekejam apa pun virusnya.


Kami semua yang datang untuk mendapat pelayanan dari tangan Anda memiliki satu harapan: sembuh dari sakit, bebas dari derita, dan kembali ke rumah dalam kondisi sehat. Saat ini Anda menjadi harapan dunia. Saat ini dunia datang kepada Anda sekalian dengan wajah murung. Dan ketika agama masih bermimpi tentang mukjizat penyembuhan, Anda sudah mulai beraksi menyelamatkan hidup orang.

Keterampilan dan ketulusan hati Anda mengalir lewat gerakan jemari Anda. Tulisan tangan Anda adalah goresan ajaib yang membangkitkan kepastian bagi hati yang gunda. Derap langkah sepatu Anda dinantikan di setiap sudut ruangan pasien, karena langkah Anda adalah satu langkah kuat demi langkah-langkah yang diimpikan. Kecekatan dan kelincahan Anda adalah teater yang menghibur Ibu Pertiwi ini.

Hari-hari ini pelayanan Anda tentu semakin berat. Hari-hari ini kita semua sadar bahwa berdoa saja tidak cukup. Kami mendengar anjuran ‘jaga jarak’, ‘menjauh dari keramaian’, ‘tinggal di rumah saja’, atau ‘tak berjabatan tangan’. Sungguh sebuah paradoks: Manusia makhluk sosial dan indrawi harus menjauhi sesamanya demi sebuah Solidaritas. Ya, sah-sah saja. Saya menjauhi engkau demi kebaikan kita. Saya soliter demi sebuah solider. Apakah paradoks ini berlaku bagi profesi Anda? Apakah seruan ini menjadi sebuah pilihan sikap Anda? Kita semua menjawab tidak.

Namun kiranya bagi Anda jawaban itu tidak menghapus tanggung jawab besar yang harus dilakoni. Sebab Anda justru harus tetap membuka tangan bagi semua yang datang. Bukan tidak mungkin Anda ingin lari meninggalkan banyak orang yang datang, namun itu mengkhianati profesi. Mungkin Anda sedang memikirkan situasi keluarga atau kerabat. Mungkin Anda lelah dengan semua ini. Mungkin saat ini Anda mencemaskan keselamatan diri Anda. Jangankan hal sebesar itu. Sekedar mengambil minum pun mungkin tak sempat bagi Anda. Namun, saya yakin bahwa di saat seperti ini sungguh nyata bahwa profesi Anda tak murni sebuah karier pribadi: Ini adalah sebuah ethos kerja demi sesama.

Dear paramedis. Kiranya Anda tahu, dan ini benar: Di rumah-rumah ibadat, di perkumpulan doa, di sudut rumah-rumah keluarga, dan di dalam hati kecil banyak orang, Anda semua diingat dan didoakan. Nada doanya hampir seragam: agar Anda semua sehat walafiat dan dapat menjadi penyalur kasih bagi para pasien. Tak jujur berbicara tentang mukjizat kesembuhan tanpa memikirkan jasa dan pengurbanan Anda.

Percayalah Anda paramedis: saat ini tidak pantas kami berdoa kepada Tuhan tanpa menyebut nama Anda semua. Kami bangga memiliki Anda semua. Dunia tidak mau kehilangan Anda. Tuhan mencintai Anda. Saat ini Tuhan mempercayakan dunia kepadamu. Tuhan mau memulihkan dunia ini dengan mengutus paramedis, bagai malaikat pelindung nyawa. Kami dapat berbicara tentang harapan sejati karena mengalami kasih dari orang seperti Anda. Semoga Dia Yang Maha Kuasa, melindungi kita semua dari segala ancaman penyakit.