Edisius Riyadi Terre, akademisi yang juga aktif dalam kegiatan-kegiatan Gereja meninggal di Jakarta, Minggu, 5 April 2020. (Foto: Ist)

Katoliknews.comEdisius Riyadi Terre, seorang akademisi yang juga dikenal aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial dan kegiatan Gereja meninggal dunia di Jakarta hari ini, Minggu, 5 April 2020.

Edi mengakhiri ziarah hidupnya di dunia setelah selama beberapa pekan terakhir dirawat intensif di RSPAD Gatot Subroto Jakarta dan sebelumnya di Eka Hospital, Tangerang.

Sejauh ini, belum ada informasi pasti perihal penyebab meninggalnya putra asal Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Edi menamatkan pendidikan menengah di SMP dan SMA Seminari Pius XII Kisol di Kabupaten Manggarai Timur.

Ia kemudian menempuh studi S1 Hukum di Universitas Widya Mataram Yogyakarta, lalu S2 Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta dan S2 Hukum di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Ia banyak berkiprah di lembaga kajian dan swadaya masyarakat, termasuk di Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) – tempat dia mengabdi selama 10 tahun, di Tim Kerja Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (KruHA) dan beberapa lembaga lainnya.

Ia juga tercatat sebagai aktivis hak asasi manusia, penerjemah sejumlah buku, juga dosen, salah satunya di Universitas Multimedia Nusantara, tempat dia mengajar filsafat dan etika komunikasi.

Edi juga dikenal aktif dalam kegiatan gereja, baik di Keuskupan Agung Jakarta, maupun di parokinya St. Monika Serpong, di mana ia tercatat sebagai Ketua Seksi Keadilan dan Perdamaian. [Silahkan klik di sini untuk membaca salah satu artikel yang ditulis Edi di Majalah Paroki St Monika]

Ungkapan Kehilangan

Para rekan kerja dan sahabat mengungkapkan kesedihan atas kepergian Edi.

Wahyu Susilo, direktur eksekutif lembaga perhati buruh migran, Migrant Care menulis kata-kata selamat jalan di akun Facebook-nya untuk Edi.

“Selamat jalan kawan baik Edisius Riyadi Terre. Sakitmu sudah hilang. Tuhan menjemputmu di Minggu Palem ini. Damai bersama Bapa di Surga,” tulis Wahyu.

Sementara Azas Tigor Nainggolan, seorang pengacara yang juga aktif di Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengenang Edi sebagai “seorang aktivis, pekerja kemanusiaan dan juga seorang advokat handal.”

“Mengagetkan kabar wafatnya Edisius, lama kami tidak berkomunikasi. Beberapa waktu lalu almarhum mengirim pesan dan menanyakan kabar saya. Rupanya itu pesan singkat Edisius yang terakhir untuk saya,” kata Tigor.

“Edisius adalah kawan yang baik, penuh perhatian dan kerja tuntas dalam memberikan pertolongan. Analisisnya tajam dan selalu membantu memberikan masukan bagi setiap teman yang butuh pertimbangan dalam melakukan advokasi kemanusiaan,” tambahnya.

Sementara itu, Abdon Nababan, mantan Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menyebut Edisius sebagai sosok yang baik.

“Kau sahabat yang baik hati sejak saya pertama kali kenal dulu di Elsam dan saya percaya Tuhan sudah siapkan tempat terbaik untukmu di surga-Nya,” kata Abdon.