Bernardus T. Beding. (Foto: Ist)

Oleh: BERNARDUS T. BEDING

Bulan Mei merupakan kesempatan penuh rahmat bagi umat Kristiani untuk membangun devosi kepada Santa Bunda Maria melalui Doa Rosario.

Bunda Maria dikenal dengan Magnificat-nya, selain keutamaan-keutamaan lain yang diimani oleh umat Kristiani. “Jiwaku mengagungkan Tuhan karena Dia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya; Dia sudah mencerai-beraikan yang congkak hati, menjatuhkan yang berkuasa, mengangkat yang hina dina, memuaskan yang lapar, dan mengusir yang kaya pergi dengan tangan hampa,” demikian sepenggal madah Magnificat Maria. (bdk. Luk. 1:46-55)

Madah revolusioner tersebut menggambarkan bagaimana Maria memaklumkan kemenangan orang-orang kecil, mereka yang hina dina, tertindas, dan lapar, karena Allah berjuang bersama mereka. Perjuangan mereka adalah perjuangan Allah melawan orang-orang congkak, yang berkuasa, dan yang menindas. Maria, seorang perempuan dari kelas pekerja di Palestina merupakan simbol orang-orang kecil dan lemah, yang hina dina, tertindas, dan lapar itu.

Sebagaimana Maria mengandung seorang Putera yang akan lahir sebagai penebus, begitu juga orang-orang yang hina dina, tertindas, dan lapar. Mereka memendam sebuah kekuatan yang dapat membawa penebusan, dan akan menang karena Allah berjuang bersama mereka, seperti yang ditegaskan dalam Magnificat. Karena itu, perjuangan mereka melawan yang congkak, yang berkuasa, dan yang menindas harus diteruskan.

Santu Yohanes Rasul memahami predikat Maria tersebut ketika dia dalam visiun apokaliptik-nya – seperti yang kita baca dalam Kitab Wahyu 12:2-6a – melihat kenyataan dari naga merah.

Dalam visiun itu, Yohanes melihat bahwa naga merah mengancam perempuan yang hamil tua dan mau menelan anaknya segera sesudah dilahirkan.

Keberadaan dan kehadiran naga merah merupakan suatu kenyataan kontemporer. Naga – dapatlah dikatakan – merupakan simbol dari semua yang congkak, yang berkuasa, dan yang menindas: yang mencari keamanan mereka di dalam monopoli modal, bank kapitalistis,  pelbagai bentuk senjata, korporasi trans-nasional, dan bentuk aliansi lain, yang menempatkan semua yang lain di bawah dominasi dan kontrol mereka.

Naga itu melihat kemungkinan datangnya ancaman yang besar dari anak yang dilahirkan perempuan itu. Dan karena itu, dia mau menelannya segera setelah lahir: hal yang demikian kita lihat juga pada yang congkak, yang berkuasa, dan yang menindas. Kalau mereka melihat munculnya tanda-tanda yang menunjukkan adanya kekuatan di dalam diri mereka yang kecil, tertindas, dan lapar, mereka datang mengancam dengan lihai atas nama “pemberian bantuan”, “pelaksanaan pembangunan, “penegakan demokrasi atau tertib dunia.” Kolonialismenya tersamar. Mereka bisa menyusup ke dalam kelompok-kelompok yang menamakan diri LSM, atau pun juga Gereja dan organisasi keagamaan.

Akan tetapi dalam visiun apokaliptik Rasul Yohanes, naga merah itu tidak memerintah. Dia dapat menyapu hilang hanya sepertiga bintang di langit dan tidak dapat menelan sang anak dan menyusahkan sang ibu. Sang anak diambil Tuhan segera sesudah ia lahir untuk tinggal di dalam kerajaan-Nya dan sang ibu dilindungi Allah dalam tempat persembunyian di padang gurun.

Visiun apokaliptik Rasul Yohanes menegaskan Magnificat Maria. “Perempuan menang dan naga kalah dalam pertarungan,” demikian visiun Yohanes, dan dalam Magnificat-nya Maria berkata, “Perbuatan-perbuatan besar sudah dilakukan Yang Mahakuasa di dalam aku dan Kuduslah Nama-Nya.”

Bunda Maria adalah simbol mereka yang dina, tertindas, dan lapar, yang mesti berjuang melawan naga merah yang menantang.

Maria menang dalam perjuangan ini karena dia membiarkan anaknya berdiam dalam lingkup Kerajaan Allah dan dirinya dilindungi oleh Allah sendiri di gurun. Itu berarti dia menang karena dia mempercayakan diri sepenuh-penuhnya pada Allah.

Kaum dina, tertindas, dan lapar memandang dalam dirinya “kekuatan yang bersifat menebus”. Namun, mereka hanya bisa menang dalam pertarungan melawan naga merah kontemporer kalau mereka jadi seperti Maria yang penuh percaya pada Allah. Karena hanya dengan kepercayaan itulah mereka terlindung dan “kekuatan” yang lahir dari diri mereka bisa “bersifat menebus”. Rasul Paulus menulis, “Hidupmu tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah” (Kol. 3:3) dan “Penderitaanku adalah untuk menggenapkan yang masih kurang dalam penderitaan Kristus” (Kol. 1:24).

Menaruh kepercayaan penuh pada Allah berarti menolak tunduk pada kekuatan naga merah atau membuat renunsiasi atasnya. Hanya dengan ini orang sungguh berpegang teguh pada kekuatan Allah. Dan kalau orang sungguh berpegang teguh pada kekuatan Allah, dia dimampukan – berkat kekuatan Allah itu – untuk membuat denunsiasi melawan naga merah.

Adalah suatu kenyataan bahwa kejahatan, kegelapan, dan kemunafikan dunia ini tidak bisa dikalahkan kalau orang melawannya secara langsung. Orang hanya bisa menang melawan kejahatan kalau dia berpegang teguh pada kebaikan. Orang hanya bisa menang melawan kegelapan kalau ia berpegang teguh pada terang. Dan orang hanya bisa menang melawan kemunafikan kalau ia berpegang teguh pada kebenaran. Dan di dalam Allah ada kebaikan, terang, dan kebenaran.

Menolak tunduk pada kekuatan naga merah berarti tidak mau bergantung padanya. Ini menuntut dari kaum dina, tertindas, dan lapar satu kepercayaan diri yang baru; kepercayaan bahwa di dalam diri mereka tersembunyi “kekuatan yang bersifat menebus”.

Kepercayaan ini mendorong mereka untuk solider satu dengan yang lain, membangun persekutuan, dan berjuang bersama. Dalam solidaritas ini mereka bisa menggunakan teknologi yang tepat guna: yang sesuai dengan lingkungan, yang menciptakan kesempatan kerja, yang tidak memburuh pertumbuhan melainkan menghilangkan kemiskinan, yang tidak merusakkan alam, dan yang tidak memperbudak.

Dan dalam solidaritas ini mereka membangun persekutuan untuk sanggup berjuang melawan struktur tidak adil yang membelenggu, yang diciptakan, dan tetap dipertahankan adanya oleh naga merah kontemporer.

Naga merah dalam visium apokaliptik Rasul Yohanes hanya bisa menyapu sepertiga bintang di langit dan tidak bisa menelan sang anak setelah dia dilahirkan sang ibu karena keduanya dilindungi Allah. Visiun ini mengingatkan kaum dina, tertindas, dan lapar bahwa walaupun dalam perjuangan melawan naga merah kontemporer mereka menderita, yang akhir bukanlah naga merah tetapi Allah.

Kepercayaan penuh, karenanya, harus ditempatkan di dalam dia: kepercayaan yang akan melahirkan harapan, dan harapan yang akan menggerakkan mereka untuk solider satu dengan yang lain, untuk bersekutu dalam perjuangan bersama, di dalam kasih yang siap menderita untuk bisa menebus.

Santa Bunda Maria adalah perempuan yang penuh iman, harapan, dan kasih. Dia yang dina, tertindas, dan lapar adalah simbol dari semua  mereka yang dina, tertindas, dan lapar. Dari dia sudah lahir Sang Penebus. Dari semua yang dina, tertindas, dan lapar pun akan lahir “kekuatan yang bersifat menebus” asal saja jadi seperti Maria.

Bernardus T. Beding adalah pegiat literasi dan pendidik di Prodi PBSI UNIKA St. Santu Paulus Ruteng